Gencarkan Program POPM Lagi, Dinkes Komitmen Basmi Filariasis Sampai Tuntas

by
PAPARAN - Kepala Dinkes Dr Slamet Budiyanto SKM MKes memaparkan rencana Dinkes menggelar program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dalam acara Rakor di di Ruang Amarta Setda, Kamis(18/2/2021).

“Selain itu, disebabkan karena terlalu lama pelaksanaan sehingga ada faktor kejenuhan, dan masyarakat masih menganggap filariasis ini bukan sesuatu masalah yang serius. Ini yang harus ditekan sesuatu yang bukan masalah serius. Oleh karena itu, kami sudah mulai on going mempersiapkan pelaksanaan POPM di tahun ini yang rencananya dijadwalkan Bulan Maret-April, lebih cepat lebih baik, menunggu koordinasi lebih lanjut bagaimana pelaksanaannya di tengah masyarakat saat pandemi Covid-19 seperti ini agar semuanya tetap aman dan lancar baik petugas maupun masyarakat sebagai penerima POPM,” bebernya.

Budi menyampaikan, Dinkes merencanakan pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis Tahun 2021 dimulai pada Bulan Maret-April 2021 mendatang. Untuk menyukseskanya, Dinkes menerjunkan sejumlah petugas dari tim kader Tenaga Pelaksana Eliminasi (TPE) secara door to door di tiap-tiap kelurahan untuk memastikan masyarakat meminum obat filariasis secara langsung di tempat (tidak boleh ditunda).
“Untuk memastikan warga meminum obat filariasis lebih dikenal dengan sebutan penyakit kaki gajah ini kami menerjunkan petugas yang disiapkan dari tim kader TPE di tiap-tiap kelurahan secara door to door menyambangi ke kediaman rumah warga. Setiap petugas itu nanti harus meyakinkan mereka bahwa obat filariasis yang diberikan harus diminum di depan mata (tidak boleh tidak), kalau hanya diberikan saja, nanti takutnya mereka hanya janji-janji saja, kemudian lupa, lama-kelamaan akhirnya dibuang obat itu,” tuturnya.

Menurutnya, mulai gencarnya sosialisasi dan edukasi pentingnya meminum obat filariasis ini adalah bertujuannya supaya semua warga Kota Pekalongan terbebas dari ancaman penyakit kaki gajah. Ditambahkan Budi, penyebaran penyakit tersebut adalah melalui cacing filaria yang dibawa nyamuk. Jadi pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan membunuh cacing yang telah berada didalam tubuh dengan meminum obat.

“Target kepatuhan masyarakat yang kami inginkan minimal 65 persen, tetapi tahun-tahun sebelumnya kurang dari 65 persen. Sebelumnya Kota Pekalongan telah dua kali melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis. Di pelaksanaan periode pertama di tahun 2011-2015 atau selama 5 tahun telah mengawali pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis.”
“Namun, dari hasil tes, ternyata angka mikro filaria masih diatas angka 1 persen yang artinya Kota Pekalongan masih masuk kategori endemis filariasis dan perlu mengulangi kegiatan POPM selama dua tahun. Selanjutnya, di dua tahun berikutnya yakni tahun 2017-2018,POPM kembali dilaksanakan. Kendati demikian, di tahun tersebut belum memenuhi target sasaran,sehingga di tahun 2021-2022 ini diharapkan POPM dapat berjalan sukses dan dilaksanakan secara efektif,” urainya.

Sementara itu,mewakili Plh Walikota, drg Agust Marhaendayana selaku Asisten Administrasi,MM menegaskan, program POPM yang dimulai di tahun 2021 ini jangan sampai gagal untuk ketiga kalinya. Oleh karenanya, agar program POPM ini sukses, dibutuhkan komitmen bersama antar seluruh masyarakat untuk bisa mendukung program tersebut dengan mau minum obat filariasis.