Gencarkan Program POPM Lagi, Dinkes Komitmen Basmi Filariasis Sampai Tuntas

by
PAPARAN - Kepala Dinkes Dr Slamet Budiyanto SKM MKes memaparkan rencana Dinkes menggelar program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) dalam acara Rakor di di Ruang Amarta Setda, Kamis(18/2/2021).

KOTA – Filariasis atau yang lebih dikenal dengan sebutan penyakit kaki gajah, masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia, tak terkecuali Kota Pekalongan. Oleh karena itu, Pemkot melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat terus berkomitmen membasmi penyakit tersebut melalui sosialisasi dan advokasi eliminasi filariasis secara menyeluruh untuk mempercepat terwujudnya Kota Pekalongan bebas filariasis pada tahun 2021 ini.

Kepala Dinkes Dr Slamet Budiyanto SKM MKes mengungkapkan, sebelumnya Kota Pekalongan telah dua kali melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis. Di pelaksanaan periode pertama di tahun 2011-2015 atau selama 5 tahun telah mengawali pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis. Namun, dari hasil tes, ternyata angka mikro filaria masih diatas angka 1 persen yang artinya Kota Pekalongan masih masuk kategori endemis filariasis dan perlu mengulangi kegiatan POPM selama dua tahun.

Selanjutnya, di dua tahun berikutnya yakni tahun 2017-2018, POPM kembali dilaksanakan. Kendati demikian, di tahun tersebut belum memenuhi target sasaran, sehingga di tahun 2021-2022 ini diharapkan POPM dapat berjalan sukses dan dilaksanakan secara efektif.

“Secara teknis pelaksanaan sudah ada perubahan-perubahan yang ditekankan supaya tingkat kepatuhan masyarakat yang menjadi kendala utamanya untuk lebih patuh minum obat filariasis yang diberikan oleh petugas. Target kepatuhan masyarakat yang kami inginkan minimal 65 persen, tetapi tahun-tahun sebelumnya kurang dari 65 persen. Harapannya, di pelaksanaan ketiga kalinya ini,Kota Pekalongan jangan sampai gagal lagi. Oleh karena itu, kami ingin terus sosialisasikan dan menjadikan kegagalan ini harus menjadi cambuk untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam meminum obat filariasis tersebut,” ucapnya usai menghadiri Rakor Program Filariasis Kota Pekalongan Tahun 2021 di Ruang Amarta Setda, Kamis(18/2/2021).

Budi memaparkan, bahwa kasus filariasis ditemukan pertama kali di tahun 2002 di kelurahan Kauman dan Tegalrejo dalam kondisi kronis (pembengkakan di kaki kiri). Di tahun 2004-2009 kembali dilakukan Survei Darah Jari (SDJ) Filariasis di beberapa kelurahan, kemudian di tahun 2010 ditemukan kembali di beberapa kelurahan dengan jumlah kasus total 402 klinis dan 40 kasus kronis. Salah satu faktor yang menyebabkan masih tingginya kasus filariasis di Kota Batik tersebut, adalah kepatuhan masyarakat dalam minum obat filariasis yang masih rendah yaitu di tahun 2011 sebesar 63%, tahun 2012 60%, 2013 sebesar 50%. Jika angka kepatuhan masyarakat ini terus ditingkatkan, maka penyebaran filariasis bisa semakin ditekan dan masyarakat saat dilakukan SDJ cacing yang ada sudah mati dan tidak ada lagi yang tertular penyakit tersebut.