Kakek 66 Tahun Genjot Istri Orang Hingga Tewas

by
Jenazah Ni Made Suriani dievakuasi dari rumah selingkuhan. (Eka Prasetya/Radar Bali).

Ni Made Suriani (38) meninggal di rumah kakek berusia 66 tahun, Made Supanda di Jalan Srikandi, Gang Kepundung, Desa Baktiseraga, Singaraja, Senin (15/2).

Belakangan diketahui Made Supanda adalah selingkuhan Suriani.

Suami Suriani, Putu Suyasa (56) mengaku tak tahu mengapa istrinya bisa berada di rumah Made Supanda.

Menurut Suyasa, pagi sebelum kejadian sang istri sempat memasak.

Sebelum pergi bekerja, Suyasa sempat meminta agar istrinya tinggal di rumah, karena dirinya akan pulang cepat.

“Pas saya mau pulang, saya dapat informasi dari keluarga kalau istri saya sudah meninggal di sini (TKP). Penyebabnya apa, saya belum tahu,” ujar Suyasa.

Sebelumnya Suriani mendatangi rumah Supanda sekitar pukul 09.00 pagi. Ketika itu Supanda masih bersih-bersih rumah.

Sekitar pukul 10.00 pagi keduanya pun masuk kamar. Diduga keduanya sempat melakukan hubungan suami istri.

Usai berhubungan, Supanda sempat membiarkan korban sendiri di dalam kamar. Sekitar pukul 11.00 siang mendadak korban menggeliat dan langsung meninggal.

Ketika itu Supanda sempat berupaya memberikan pertolongan pertama dengan menekan dada korban. Namun tak ada perubahan.

Supanda pun menghubungi anaknya, kemudian dilaporkan ke Mapolsek Kota Singaraja.

Aparat dari Polsek Kota Singaraja serta tim Inafis Satuan Reskrim Polres Buleleng datang melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Selanjutnya jenazah korban dibawa ke RSUD Buleleng guna proses pemeriksaan lebih lanjut.

“Mereka sempat berhubungan di sana. Selang beberapa menit, tiba-tiba korban ini menggeliat dan sudah tidak ada nafas. Korban saat itu sudah mengenakan pakaian lengkap,” kata Kapolsek Kota Singaraja, Kompol Dewa Ketut Darma Ariawan.

Diduga Suriani terkena serangan jantung 20 menit setelah berhubungan dengan Made Supanda, warga Kelurahan Banjar Tegal.

“Kami meminta pihak forensik RSUD Buleleng untuk melakukan visum luar, namun hasilnya belum kami terima,” kata Kompol Darma.

Ia menyebutkan keluarga korban menolak untuk dilakukan otopsi.

“Otopsi tidak dilakukan karena tidak mendapatkan persetujuan dari keluarga, mengingat dari hasil pemeriksaan luar tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan,” tandas Kompol Darma. (eps/mus/radabali)