Harga Cabai Tembus Rp100 Ribu per Kilogram

by
Salah seorang petani cabai rawit di lahannya di Kota Probolinggo. (Foto: Ikhsan Mahmudi/Ngopibareng.id)

Harga cabai rawit di pasaran saat ini semakin pedas dalam sepekan terakhir. Hampir setiap hari naik, bahkan di Kota Probolinggo, Minggu (14/02/2021), cabai rawit di sejumlah pasar tradisional dijual sekitar Rp100.000 per kilogram (kg).

Memang harga kulak dari pengepul cabai rawit terus naik, ya saya mengikuti alias ikut naik. Hari ini cabai rawit saya jual Rp100.000 per kilogram,” kata Jito, 45 tahun, pedagang di Pasar Kronong, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Minggu (14/02/2021).

Disinggung mengapa harga cabai rawit terus naik, Jito menduga dipicu puncak musim penghujan. “Biasanya saat puncak musim hujan, cabai rawit mahal, ya karena cabai rawit banyak yang rusak atau busuk saat musim hujan,” ujarnya.

Jito menambahkan, meski hargai cabai terus naik tetapi konsumen tidak berkurang. “Jumlah pembeli tetap banyak, hanya volume belinya dikurangi, biasanya beli cabai sekilo dikurangi menjadi setengah kilo,” katanya.

Melambungnya harga cabai rawit diakui M. Nurwahyudi, pemilik Warung Lakar Sae di Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo. “Dua hari lalu cabai rawit Rp60 ribu, kemarin naik menjadi Rp85 ribu, hari ini saya kaget naik lagi jadi Rp100 ribu,” ujarnya.

Yudi, panggilan akrab M. Nurwahyudi mengaku, tidak mungkin warungnya yang dikenal masyarakat sebagai kuliner serba pedas meninggalkan cabai rawit.

Pedasnya saya kurangi sedikit karena cabai rawitnya juga dikurangi. Biasanya saya beli cabai rawit dua kilo sehari, dikurangi tinggal sekilo,” katanya.

Di tingkat pedagang mlijo di kampung-kampung, harga cabai eceran pun juga melambung tinggi. “Minggu pagi saya beli cabai rawit satu ons di mlijo langganan Rp10.000. Meski mahal tetap beli cabai, tidak enak kalau tidak ada sambal,” kata Ny. Mila, warga Jalan Letjen Sutoyo, Kota Probolinggo.

Mbak Ning, mlijo di Jalan Djuanda, Kota Probolinggo mengaku, agak kesulitan menjual cabai rawit secara eceran. “Paling kecil ukuran setengah ons, saya jual Rp5.000. Kalau lebih kecil lagi bungkusannya, gak omes saya,” katanya. (ngopibareng)