Penurunan Tanah Kota Pekalongan Capai 6 Sentimeter

by

*Dalam Satu Tahun

KOTA – Permukaan tanah di Kota Pekalongan terus mengalami penurunan. Berdasarkan alat pendeteksi penurunan tanah berupa patok yang dipasang di kawasan Stadion Hoegeng, menunjukan telah terjadi penurunan tanah sedalam 4,9 sentimeter sejak Maret tahun 2020 hingga awal Januari 2021. Sehingga dalam satu tahun penurunan tanah di Kota Pekalongan diperkirakan mencapai 6 sentimeter. Sementara satu patok lain yang dipasang di wilayah Pekalongan Selatan, menunjukan penurunan tanah lebih lambat 2 sentimeter.

“Badan Geologi Nasional memasang patok untuk mendeteksi penurunan tanah di Stadion Hoegeng dan di Kecamatan Pekalongan Selatan. Untuk alat di Stadion Hoegeng yang dipasang sejak Maret tahun 2020 hingga 4 Januari tercatat terjadi penurunan tanah 4,9 sentimeter. Sehingga diperkirakan dalam satu tahun terjadi penurunan tanah 6 sentimeter. Untuk di Pekalongan selatan, penurunan lebih lambat 2 sentimeter,” ungkap Kepala Bappeda Kota Pekalongan, Anita Heru Kusumorini.

Anita menjelaskan, jika dihubungkan dengan musibah banjir dan rob yang selama ini semakin meluas ke beberapa daerah di Pekalongan dan sulitnya air surut bahkan setelah banjir atau rob reda maka disinyalir kondisi tersebut disebabkan adanya penurunan tanah di Pekalongan.

“Kenapa banjir rob makin lama makin masuk ke dalam. Juga ada daerah setelah banjir atau rob genanganya sulit hilang karena air tidak bisa mengalir. Ternyata setelah ada penelitian baik dari Badan Geologi Nasional dan dari ITB disinyalir disebabkan adanya penurunan tanah di Kota Pekalongan,” tambahnya.

Mengenai faktor penyebab penurunan tanah terus terjadi, Anita megatakan bahwa tanah di Kota Pekalongan termasuk endapan usia muda yang memang secara alami akan mengalami penurunan sekitar 1 hingga 2 sentimeter per tahun. Namun jika penurunan lebih dari itu, maka diperkirakan ada aktivitas-aktivitas yang membuat penurunan lebih dalam.

“Ada beberapa faktor yang diperkirkan dapat membuat penurunan tanah semakin dalam yakni pengambilan air tanah yang menyebabkan adanya lubang maupun rongga sehingga tanah menjadi turun. Bisa juga karena adanya aktivitas ekonomo yang membebani tanah tersebut. Saat ini kami belum bisa justifikasi penyebab penurunan tanah, kami masih terus melakukan penelitian,” tandasnya.(nul)