Dokter Meninggal Usai Divaksin Covid-19, Begini Penjelasan IDI

by
Paramedis Puskesmas Gandus, Palembang akan menyuntikkan vaksin Sinovac. foto: bima sumeks.co

Dokter forensik RS Bhayangkara Muhammad Hasan Palembang telah menyatakan almarhum dr Jamhari meninggal akibat kekurangan oksigen. Namum, karena meninggalnya belum sampai 1×24 jam pasca vaksinasi, sontak kejadian ini menjadi perhatian banyak pihak.

Secara gamblang Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Palembang, Dr Zulkhair Ali SpPD K-GH FINASIM, menerangkan kasus meninggalnya dokter tersebut tidak ada hubungan dengan vaksinasi yang dilakukan.

“Kami sudah melakukan evaluasi sebelum vaksinasi terhadap almarhum, saat di-screening hasilnya stabil, tensi darahnya menunjukkan tidak ada gangguan jantung,” kata Zulkhair Ali, seperti dilansir Sumeks, Ahad (24/1).

Bahkan menurutnya, saat divaksinasi, almarhum diajukan 13 pertanyaan yang terlampir dalam formulir, sekaligus telah dimintai untuk dijawab dengan jujur. Yang bersangkutan telah menjawab semua, tidak dalam keadaan sakit saat prosesi screening.

“Kami minta dijawab dengan jujur. Memang sempat menurut keterangan beliau, sedang mengkonsumsi obat, namun belum tau obatnya apa. Lalu setelah itu, kami cari tau ke Puskesmas Kampus tempat beliau bekerja, juga mengatakan demikian, tidak ada yang mengetahui,” ujarnya.

Menurut hasil pemeriksaan forensik, ulas Zulkhair, sejauh ini tidak ditemukan penyebab lain selain serangan jantung dan kekurangan oksigen yang menjadi penyebab meninggalnya almarhum Jamhari. Sebab, pihak keluarga tidak menginginkan adanya autopsi, lantaran keluarga sudah ikhlas dan bukan meninggal karena tindak pidana.

Sementara itu, Kasi Survailens dan Imunisasi Dinkes Sumsel, Yusri SKM mengaku pihaknya belum bisa memberikan keterangan terkait kejadian tersebut.

“Kami belum bisa menghubungkan tewasnya dokter dengan proses vaksinasi yang dilakukan sehari sebelum dia meninggal, jadi kami belum bisa berkomentar mengenai itu. Komisi Nasional (Komnas) kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) Pusat turun tangan,” cetusnya.

Untuk lebih jelas, sambung Yusti, senin besok (25/1) Komnas KIPI pusat akan menggelar rapat dengan Tim Pokja KIPI Kota Palembang, Komda KIPI Sumsel dan tim forensik Sumsel untuk mengumpulkan data dan keterangan terlebih dahulu, melenggapi data yang ada.

“Yang jelas, seluruh sasaran yang akan disuntik vaksin melalui proses screening terlebih dahulu. Guna memastikan kondisi kesehatannya dan Vaksinator sudah bekerja dengan baik sesuai dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan,” pungkasnya. (bim/sumeks)