Game Online Ganggu Kepribadian, Termasuk Berkata Kasar Saat Bermain

by
Pegiat literasi memantau anak yang main game online di taman baca masyarakat. ISTIMEWA/Radarbanyumas

Di masa pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), taman baca masyarakat tetap diminati anak dan remaja. Namun, bagi pegiat literasi ada yang mengganjal.

Ketika pengunjung taman baca masyarakat sudah bosan membaca buku. Maka mereka beralih ke game online. Di taman baca masyarakat Griya Baca Jelita tersedia fasilitas WiFi.

“Saat mereka main game online. Selalu saja ada yang mengeluarkan kata-kata kasar. Pekerjaan berat untuk kami yang bergerak di bidang literasi,” beber pegiat literasi Warastuti Any Anggorowati, seperti dilansir radarmas, kemarin.

Jika pengunjung kedapatan mengeluarkan kata kasar maupun umpatan sembari main game online. Maka langsung dihardik untuk tidak mengulangi. Any tidak pernah lelah untuk mengingatkan agar berkata yang baik.

Menjunjung tinggi moral dan adab generasi penerus bangsa. Dikatakan Any menjadi tanggung jawab bersama termasuk pegiat literasi. Sehingga, pegiat literasi tidak hanya bergerak mendekatkan buku kepada masyarakat.

“Pentingnya menekankan pada anak dan remaja untuk bertutur kata yang baik. Mereka main game tiba-tiba berteriak hewan berkaki empat. Masih banyak kata tidak pantas lainnya untuk seumuran mereka,” papar Any.

Terpisah, dr. Hilma Paramitha, Sp.Kj dari Instalasi Kesehatan Jiwa Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas menyebut banyak pihak memang harus membantu melindungi anak dari dampak negatif game online. Sebab, berpotensi mengalami gangguan kepribadian.

“Efek jangka panjang, bisa membentuk kepribadian yang tidak baik. Dan ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” tukas dr. Hilma.

Game online tidak hanya memicu untuk berkata kasar. Juga, kurang empati, keterampilan sosial rendah, kurang toleransi dan kurang sabar. Semua itu dapat mengarah ke kepribadian anti sosial jika tidak ada pendampingan dan pengasuhan yang kuat di rumah dan lingkungan riil. (fij/radarmas)