Peras Kepala Sekolah, Wartawan Gadungan Digulung

by
JURNALIS ABAL-ABAL : Polres Sleman berhasil ungkap kasus wartawan gadungan yang telah melakukan pemerasan terhad soerang PNS di Mapolres Bantul (13/1).(SITI FATIMAH/RADAR JOGJA)

Komplotan tiga wartawan gadungan. Mereka yakni PH, 48; BSM, 46; dan SPS, 52 dibekuk oleh Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor (Satreskrim Polres) Bantul. Mereka ditangkap atas dugaan pemerasan terhadap seorang PNS di wilayah Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul.

Kapolres Bantul, AKBP Wachyu Tri Budi Sulistyono mejelaskan ketiganya yang merupakan warga Gunungkidul ini ditangkap, setelah pihaknya mendapat laporan dari korban pada Selasa (12/1). Pelaku mengancam korban akan memberitakan korban atas tuduhan perselingkuhan.

”Jadi korban ini diperas dengan tuduhan melakukan perselingkungan. Akibatnya korban mengalami kerugian hingga Rp 51 juta,” jelas Wachyu di Mapolres Bantul Rabu (13/1).

Dijelaskan, pelaku beraksi secara kelompok, saat mendatangi rumah korban pada 7 Januari. Total, ada enam orang yang terlibat dan mengaku sebagai wartawan. Dimana, tiga orang bertugas membuntuti korban dari wilayah Parangtritis sampai rumah. Sesampainya di rumah, tiga orang lainnya sebagai eksekutor bertandang ke rumah korban dan meminta uang.

Modus awal para pelaku pemerasan meminta korban keluar rumah dengan alasan ada murid yang akan mengurus pindah sekolah. Supriyadi pun menurut, padahal itu hanya akal-akalan dari pelaku.

Korban lantas dikelabui agar masuk ke dalam mobil di depan rumah korban yang telah disiapkan oleh pelaku. Di Dalam mobil, para pelaku kemudian menuduh korban telah berselingkuh. ”Sebenarnya tidak ada anak mau pindah sekolah. Justru, di dalam mobil, korban dimintai uang,” tuturnya.

Awalnya, korban menyerahkan uang senilai Rp 1,9 juta yang ada di dalam dompet. Selang sehari berikutnya, pada 8 Januari, pelaku kembali menghubungi korban dan meminta transferan uang senilai Rp 30 Juta. ”Dan disanggupi,” jelasnya.

Setelah itu, pelaku menelpon lagi pada 9 Januari meminta transfer senilai Rp 20 Juta. Tidak sampai disitu, ternyata para pelaku kembali memeras korban dengan meminta uang sebanyak Rp 55 juta. ”Karena korban sudah tidak sanggup kemudian melapor,” jelasnya.

Selanjutnya, Satreskrim Polres Bantul segera bergerak dan berhasil mengamankan tiga orang pelaku beserta barang bukti kejahatan, berupa kalung emas, satu unit mobil, id card pers, surat tugas media Mediator dan slip tanda bukti transfer. Polisi, baru berhasil menggulung tiga pelaku. ”Tiga pelaku lainnya, masih kami cari,” ucapnya.

Sementara itu, di hadapan polisi dan awak media, PH membantah tuduhan telah melakukan aksi pemerasan. Dia berdalih, kedatangan dirinya ke rumah korban hanya untuk memberi nasihat. Sebab, sebagai kepala sekolah perbuatan yang telah dilakukan dianggap tidak pantas.

Akibat ulahnya ini, PH, BSM, dan SPS disangkakan telah melanggar pasal 368 KUHP tentang pemerasan, dengan ancaman hukuman maksimal 9 tahun penjara. (fat/bah/radarjogja)