2,5 % Perusahaan di Kota Santri Bangkrut

by
BERI KETERANGAN - Kepala DPM PTSP dan Naker Kabupaten Pekalongan Edy Herijanto memberikan keterangan kepada wartawan terkait kondisi perusahaan selama masa pandemi Covid-19, kemarin.

**Imbas Pandemi Covid-19
**Jumlah Pekerja Dirumahkan 2.507
**Jumlah Buruh Di-PHK 470 Orang

KAJEN – Perusahaan kelas menengah ke atas di Kabupaten Pekalongan kelimpungan dengan adanya pandemi Covid-19. Dari 130 perusahaan di Kota Santri, 2,5 persennya atau tiga perusahaan bangkrut, dan 17,5 persen atau 23 perusahaan merugi.

Sebanyak 50 persen atau 65 perusahaan kelas menengah ke atas mengalami stagnasi. Hanya ada 30 persen atau 39 perusahaan yang tetap tumbuh di masa pandemi Covid-19.

Akibat pandemi, berdasarkan data di DPM PTSP dan Naker Kabupaten Pekalongan hingga bulan Oktober 2020, sebanyak 2.507 pekerja yang tersebar di tujuh perusahaan telah dirumahkan. Bahkan, ada 470 pekerja di enam perusahaan mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK).

Kepala DPM PTSP dan Naker Kabupaten Pekalongan Edy Herijanto, ditemui usai audiensi KSPN Kabupaten Pekalongan dengan Plt Bupati Arini Harimurti di Ruang Rapat Bupati, Selasa (10/11/2020), mengatakan, perusahaan kelas menengah ke atas di Kabupaten Pekalongan banyak yang terdampak pandemi Covid-19. Disebutkan, berdasarkan data dari awal Covid-19 hingga kemarin, perusahaan yang merugi 17,5 persen, dan perusahaan yang bangkrut 2,5 persen. Untuk kondisi perusahaan yang tumbuh sekitar 30 persen, dan perusahaan dalam keadaan stagnan 50 persen.

“Jumlah total perusahaan kelas menengah ke atas di Kabupaten Pekalongan ada 130 perusahaan,” terang dia.