Musim Hujan, Perajin Arang Kesulitan Pasokan

by
SIAP JUAL - Carumi (60), salah satu pengrajin arang kayu bakar Dukuh Sijegur, Desa Wringin Agung, Kabupaten Pekalongan menyiapkan pasokan arang yang sudah siap jual.

DORO – Kondisi pandemi yang tak kunjung usai jelas berpengaruh pada perekonomian saat ini, terlebih bagi usaha kecil masyarakat. Salah satunya perajin arang kayu bakar yang selain terdampak pandemi, kini juga tengah berjuang menghadapi musim hujan yang menyulitkan produksi mereka.

Seperti dialami salah satu pelakunya di Dukuh Sijegur, Desa Wringin Agung, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan, Carumi (60), yang mengaku turun pasokannya bahan baku ketika memasuki musim hujan. Hal ini disebabkan bahan baku basah yang sukar dijadikan arang, dan tentu proses pembuatannya akan lebih lama.

“Kalau musim hujan tiba biasanya sulit buat arang, karena bahan kayu basah dan susah dibakar. Bahkan tak jarang saya berhenti produksi. Untuk bahan baku sendiri pakek kayu Sengon, asam, hingga kayu akasia. Mayoritas dipasok dari warga sekitar biasanya untuk satu pikup isi kayu dihargai Rp 100 ribuan. Kalau ndk biasanya saya cari dikebun lumayan banyak disini,” katanya, belum lama ini.

Untuk memproduksi arang kayu bakar, Ibu lima anak ini biasa membakar bahan baku kayu kering selama empat hari, kalau musim hujan gini bisa lebih lama lagi. Sekali produksi, wanita paruh baya tersebut bisa menghasilkan lebih kurang 4 karung arang. “Setiap karung, kalau ditimbang bobotnya lebih kurang 30 kilogram. Biasa saya jual per karung Rp 45 ribu. Ada pengepul yang ambil ke sini,” ujarnya.

Meski sudah menjalankan profesinya sejak muda, Carumi mengaku sampai sekarang belum ada penerusnya. “Banyak yang memilih bekerja lain, mungkin karena mereka merasa kesulitan ketika memproduksi arang yang berkualitas,” tuturnya.