Audiensi PT Pajitex Kembali Deadlock, Sejumlah Mantan Karyawan Ngadu ke DPRD Kabupaten Pekalongan

by

KAJEN – Sejumlah ex Karyawan PT Pajitex yang di PHK, Senin (2/11/2020) kembali mengadu ke DPRD Kabupaten Pekalongan. Namun dalam audiensi yang digelar di ruang Rapat Komisi IV DPRD tidak ada titik temu.

Dalam audiensi di ruang Rapat Komisi IV DPRD Kabupaten Pekalongan di pimpin langsung oleh Ketua Komisi IV, M. Kholis Jazuli didampingi wakil Komisi dan anggota. Kemudian hadir pula perwakilan dari Dinas DPM PTSP Naker, Perwakilan ex Karyawan yang tergabung dalam DPC DPN serta perwakilan dari PT Pajitex.

Baca Juga: DPRD Kabupaten Pekalongan Berharap Perselisihan Tak Sampai Ke Pengadilan, PT Pajitex dan Buruh Korban PHK Diminta Bermusyawarah untuk Cari Jalan Keluar Terbaik

Audiensi yang ke sekian kali tersebut ratusan mantan kartayawan PT Pajitex tetap menuntut haknya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Namun dari pihak Menegemen yang diwakili oleh pengacaranya tetap mempertahankan keputusan perusahaan.

Sekretaris DPC SPN Kabupaten Pekalongan, Isa Hanafi mengaku dengan adanya PHK oleh pihak PT Pajitex diharapkan dilaksanakan sesuai UU ketenagakerjaan yang berlaku. Karena perusahaan tidak mengalami kerugian namun tetap membangun. Bahkan didalam perusahaan mendatangkan mesin mesin baru dan modern namun terdapat pengurangan tenaga kerja.

“Padahal dikatakan efisiensi kita harus mendapatkan ketentuan sesuai upah yang berlaku. Kemudian dalam UU sudah jelas ketika perselisihan industrial belum terselesaikan maka kedua belah pihak wajib memberikan hak dan kewajiban namun perusahaan malah melakukan PHK kami sejak 1 Oktober kemarin, ” katanya.

Sedangkan upah PHK dari perusahaan mengacu satu kali ketentuan, sedangkan dari karyawan meminta agar dia kali ketentuan. Namun apabila akan ada pertemuan non formal ya monggo, nanti akan di rembug melalui persetujuan dari anggota untuk ada hasil.

Sementara perwakilan PT Pajitex melalui pengecara, Susilo menyampaikan dengan pendemi covid-19 ini banyak barang jadi di gudang itu menumpuk, terus kemudian penjualan kesulitan. Dengan situasi seperti ini maka perusahaan harus merumahkan lagi untuk menghindari PHK cukup besar.

Pertama memang ada 20 mesin tenun di berhentikan karena barang yang sudah jadi dan di gudang overload.

“Kita merumahkan lagi beberapa departemen pendukung mesin tenun ini pertama departemen celup libur dari Oktober hingga November. Adapun yang masuk itu digilir Senin selasa Rabu, selanjutnya diliburkan dengan mendapatkan upah 50 persen. Kemudian departemen finishing masuk senin selasa rabu, kemudian kamis sampai selanjutnya diliburkan dengan upah 50 persen, ” katanya.

Untuk Depertemen persiapan 1 masuk senin selasa rabu, dan kamis jumat sabtu libur upah 50 persen. Depertemen persiapan 2 juga sama, itu upaya upaya penyelamatan operasional PT Pajitex.

“Sedangkan dengan tuntutan mereka belum ada titik temu. Kita sudah dimediasi namun belum ada titik temu, karena mereka masih bersihkukuh dua kali ketentuan, ” ungkapnya. (Yon)