Budidaya Ikan Cupang Tembus Ekspor, Harganya Capai Jutaan Rupiah

by
Budidaya ikan Cupang di Desa Badal Pandean Kecamatan Ngadiluwih, Kediri. (Foto: Fendhy Plesmana/Ngopibareng.id)

Peternak ikan hias di Desa Badal Pandean Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri saat ini gencar memproduksi ikan Betta atau Cupang. Hal ini karena budidaya ikan cupang memiliki nilai ekonomis tinggi dan tidak terlalu membutuhkan tempat yang begitu luas.

“Saat ini kita ngejar trend dan nilai ekonomi tinggi serta tidak butuh tempat yang luas, ya ikan cupang ini,” kata Anang Royani, salah satu anggota komunitas budidaya ikan hias.

Peternak ikan hias jenis Cupang di Desa Badal Pandean melayani pembelian dalam bentuk benih. Untuk masa panen bagi pembenihan ikan diperlukan waktu paling cepat 20 hari dan paling lambat satu bulan.

Jenis budidaya ikan Cupang yang dikembangkan oleh peternak setempat beraneka macam. Mulai dari ikan Cupang jenis Galaxy, Galaxy Multi, Giant dan Blue Rim. Jenis-jenis ini memiliki nilai ekonomi tinggi.

“Sekarang yang lagi digemari jenis Galaxy, Multi sama Avatar,” kata Anang. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah. Tergantung dari kualitas ikan Betta itu sendiri. Biasanya dinilai dari warna.

“Kalau harga kita ambil tertinggi. Untuk kualitas sudah full block. Full block artinya warna sudah tegas. Warna merah nyala, harganya sampai jutaan rupiah,” katanya.

Untuk pemasaran produk, para peternak lebih cenderung menjualnya dengan sistem online. Karena dianggap bisa menjangkau wilayah yang luas.

Penjualan online ini pembelinya bahkan sampai ke luar negeri, seperti ke Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, China dan USA.

“Sebagian dari teman sudah ada yang ekspor ke Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, China. Kemarin, bahkan sudah nyampek ke USA. Per ekornya harganya kisaran Rp 4-6 juta,” kata Anang.

Komunitas budidaya ikan di Desa Bandal Pandean terbagi beberapa kelompok. Yang sudah resmi dan diakui oleh dinas ada 4 kelompok. Masing masing kelompok beranggotakan 10 sampai 15 orang.

Peternak ikan tidak hanya terfokus pada budidaya ikan Betta, tetapi juga ikan hias jenis lainnya, seperti Koi, Manfish, Tetra dan Sumetara. Namun, karena mengikuti trend saat ini, banyak peternak ikan hias yang lebih fokus ke budidaya ikan cupang. “Kalau saat ini ada 60 -70 persen peternak fokus ke budidaya ikan Betta,” katanya.

Ikan hias jenis Betta budidaya petani Desa Badal Pandean diklaim memilki keunggulan dari sisi cara merawat. Sehingga, tak heran jika kemudian ikan dari desa ini lebih agresif. Selain lebih agresif ikan dari desa ini juga diklaim memiliki daya tahan yang lebih dari penyakit.

Budidaya ikan hias di Desa Badal Pandean Kecamatan Ngadiluwih ini sudah ada sejak akhir tahun 1970. Namun, khusus budidaya ikan cupang mulai ada sejak 1980-an.

Ageng menambahkan, kendala yang dihadapi saat ini terkait suplai makan untuk ikan yang minim saat peralihan musim kemarau ke musim hujan. Karena pasokan terbatas, sejumlah agen terpaksa harus mendatangkan cacing sutra dari Surabaya.

“Kita datangkan dari Surabaya. Untuk ukuran perkaleng susu cacing sutra kisaran Rp10-12 ribu. Harga cacing naik, tapi tidak terlalu signifikan. Sebelumnya di kisaran Rp 8-9 ribu perkaleng,” kata Ageng.

Para petani ikan cupang menilai, pakan cacing sutra sangat bagus untuk pertumbuhan. Khususnya, sejak benih usia 20 hari hingga ikan menginjak ke usia remaja yaitu usia satu bulan setengah.

Selepas usia remaja, ketika ikan cupang dipindahkan ke botol atau soliter, pola makanya diganti dengan pelet atau kutu air. Peralihan musim juga berpengaruh pada pola adaptasi ikan terhadap cuaca sehingga rentan terkena penyakit kulit seperti jamur.

“Kalau terkena penyakit jamur, ikan cenderung kurang agresif. Sehingga ekornya ngeluncup semua jadi tidak bagus,” kata Anang.

Untuk mengantisipasi agar tidak terserang jamur para petani budidaya ikan cupang memiliki cara jitu yakni menggunakan ekstrak daun ketapang dicampur dengan garam. “Cara ngatasinya mudah. Daun ketapang kita haluskan dicampur garam secukupnya,” katanya. (ngopibareng)