Perajin Gerabah Bertahan di Tengah Pandemi

by
PERAJIN- Rois perajin gerabah asal wonorejo tengah membuat kendi dari tanah liat.

WONOREJO – Pandemi Covid-19 berdampak besar pada usaha kecil masyarakat di desa. Seperti yang dialami Rois, perajin gerabah asal Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan. Perajin yang juga ibu rumah tangga ini mencoba mempertahankan usaha gerabah yang sudah berjalan secara turun temurun di keluarganya. Meski, situasi pandemi membuat usahanya kembang kempis.

Desa Wonorejo memang dikenal sejak dulu sebagai salah satu desa perajin gerabah yang masih mempertahankan cara tradisional. Bahan baku gerabah berupa tanah liat, banyak didapati karena pemerintah desa menyedian lahan bagi warga untuk memperoleh tanah liat secara gratis.

“Biasanya saya buat kendi, lemper atau tempat kemenyan. Kebanyakan pesanan buat hajatan soalnya. Kalau sekarang karena hajatan dibatasi jadi pengepul yang ambil disini juga menurun permintaanya. Saya sama pengepul biasanya bagi hasil, saya yang buat gerabah sampai setengah jadi (mentah) nanti diambil pengepul untuk dibakar kemudian dijual. Baru saya dapat upah dari hasil baginya,”kata Rois.

Dikatakan Rois, di kondisi pandemi pengepul hanya mampu menjual 50% dari jumlah biasa. Saat ini, sekali antar penjualan hanya mencapai Rp100 ribu. Sedangkan hari biasanya mencapai angka lebih dari Rp200 ribu.

Meski demikian, Rois masih bersyukur di usianya yang tidak lagi muda bisa sedikit membantu kebutuhan rumah tangganya melalui usaha membuat gerabah. Agar usahanya itu tetap berjalan, Rois pun memutar otak dengan menerima pesanan khusus seperti pot bunga hias yang kini sedang banyak diminati oleh masyarakat.