Kisah Tim Pemulasan Jenazah Covid-19, Memakamkan Jenazah dari Pagi Sampai Ketemu Pagi Lagi

by
BERTUGAS - Tim Pemakaman dan Pengantaran Jenazah Covid-19 saat bertugas memakamkan salah satu jenazah Covid-19 pada malam hari.

Bukan tugas yang mudah menjadi bagian dari Tim Pemakaman dan Pengantaran jenazah Covid-19. Berkejaran dengan waktu, protokol pemakaman yang jauh berbeda, hingga ancaman penularan yang mengintai, harus dihadapi para garda terakhir dari rantai penanganan pasien Covid-19 tersebut.

BERJIBAKU dengan waktu dan menghadapi cuaca yang tak menentu, mulai terasa biasa bagi DA Yudha, salah satu anggota Tim Pemakaman dan Pengantaran Jenazah Covid-19. Terhitung, sudah lebih dari 30 kali dia bersama tim memakamkan jenazah dengan protokol Covid-19 di Kota Pekalongan. Yudha merupakan pegawai di Kantor BPBD Kota Pekalongan yang kemudian masuk dalam tim bersama tujuh anggota lain. Dia bahkan sudah terlibat sejak kasus pertama pasien meninggal yang harus dimakamkan dengan protokol Covid-19 sekitar awal April tahun 2020.

“Kasus kematian pertama waktu ada pasien probable meninggal dunia, itu tim pemakaman belum terbentuk. Tapi karena sesuai UU penanggulangan bencana bahwa memakamkan korban jika terjadi wabah menjadi tupoksi BPBD, maka mau tidak mau kami bergerak. Saat itu dari BPBD hanya dua orang yang terjun melakukan pemakaman dengan dibantu dua penggali kubur. Tanpa bekal pengetahuan maupun pelatihan pemakaman jenazah Covid-19,” tuturnya.

Tugas itu menjadi pengalaman baru baginya, yang belum pernah bersentuhan dengan kegiatan pemakaman jenazah. Ditambah, protokol pemakaman jauh berbeda dengan jenazah biasa, suasana pemakaman yang mencekam karena hanya dihadiri beberapa orang, hingga penggunakan APD secara lengkap, membawa dampak psikologis yang tidak ringan. Ancaman penularan virus terus dirasakanya. Belum lagi energi yang terkuras karena menjalankan tugas baru yang tak pernah dijumpainya.

Usai kasus pertama, Gugus Tugas setempat merespons dengan membentuk tim tersendiri. Di Kota Pekalongan Hanya ada satu tim pemakaman yang kedelapan angotanya berasal dari BPBD. Merekalah yang harus terjun setiap ada pemakaman jenazah Covid-19. “Sempat teman-teman ini awalnya tidak mau karena belum mendapatkan pelatihan. Tapi kemudian dilakukan pelatihan dan pembekalan mulai dari penggunaan APD, protokol pemakaman, hingga mengangkat dan memasukan ke liang lahat,” katanya.

Semakin hari kasus kematian pasien Covid-19 di Kota Pekalongan makin meningkat. Tugas tim pemakaman juga otomatis bertambah. Yudha dan rekan-rekanya sudah merasakan memakamkan jenazah pada tengah malam, pada terik siang yang panas, maupun pada kondisi hujan yang deras. Adanya protokol yang menetapkan pemakaman jenazah Covid-19 harus dilakukan maksimal lima jam sejak meninggal, membuat tim harus bergerak cepat. Pernah sekali waktu, tim bekerja tanpa henti dari pagi bertemu pagi.