‘Mudik’ dari China, Pasangan Dosen Ini Rintis Pembuatan Masker Fashion

by
Bupati Wihaji menunjukan masker fashion hasil kreasi Tri Amalia dan suaminya yang pemasaranya Tembus pasar luar negeri.

*Pemasaranya Tembus Luar Negeri

BATANG – Pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia saat ini ternyata ternyata memunculkan peluang bagi orang-orang yang kreatif. Seperti pasangan suami istri asal Desa Sendang, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang ini yang mampu meraup keuntungan dengan membuat masker fashion.

Tri Amalia Lestari dan suaminya yang merupakan warga Desa Sendang, sebelumnya bekerja sebagai dosen di Universitas yang ada di China. Namun akibat adanya pendemo Covid-19 yang muncul pertama kali di Kota Wuhan, China, keduanya untuk sementara harus meninggalkan pekerjaannya dan pulang ke tanah airnya.

Di kampung halamannya inilah, keduanya mulai merintis usaha pembuatan masker fashion yang pemasaranya mampu menembus pasar luar negeri. Masker kelas premiun hasil kreasi mereka diminati konsumen di Malaysia karena mempunyai tampilan epik yang dihiasi dengan manik-manik diatas bordiran kain tiga lapis dari bahan katun toyobo dan kain brukat. Kreasi tersebut tidak mengurangi fungsi utama mencegah penularan COVID- 19.

“Kita coba membuat masker yang menarik, namun tetap menjaga fungsi utamanya untuk mencegah penularan Covid-19. Dan Alhamdulillah, hasilnya diminati hingga manca negara,” ujar Tri Amalia saat dikunjungi Bupati Batang, Wihaji dan Ketua Tim Penggerak PKK, Uni Kuslantasi Wihaji.

Tri Amalia menjelaskan, untuk bahan utama masker sendiri adalah kain katun toyobo dan kain brukat. Selanjutnya masker ditambah pernak-pernik, seperti pin, renda, payet dan pita yang disulam diatas bordiran kain motif bunga-bunga.



“Masker yang saya buat dari kain tapi juga dengan aksesoris-aksesoris dan juga detail fashionnya, sehingga jika orang itu ada keperluan tertentu, seperti pesta atau lainnya juga bisa dipakai gitu. Sehingga masker ini berfungsi ganda, disamping untuk mencegah penularan Covid-19, juga untuk fashion,” jelas Tri Amalia yang berprofesi sebagai dosen di universitas yang ada di China ini.

Tri Amalia mengungkapkan, dalam memasarkan produknya, dirinya lebih mengandalkan sosial media. Terutama aplikasi instagram, facebook dan twitter karena dirasa jangkauanya lebih luas. Hasilnya, dalam sebulan omzet penjualannya  mampu menembus Rp 3 juta, belum termasuk masker yang dikirim ke negara Malaysia.

“Untuk ekspor keluar negeri awalnya juga dari temen yang liat postingan kemudian suka dan minat, itu orang Malaysia. Dari itu dia minta contoh, dari situ permintaan terus jadi hampir setiap dua bulan kita kirim kesana dengan jumlah lumayan banyak. Disana mereka juga ada reseller dan disebar ke beberapa kota seperti Kuala Lumpur, Kucing dan juga Sabah,” beber Tri Amalia.

Amalia juga menjelaskan, dari hasil produk maskernya ia membandrol harga 30 ribu sampai ratusan ribu bergantung variasi. Disisi lain, karyanyanya pun mampu mengentaskan pengangguran warga sekitar. Pasalnya sejumlah penjahit, tukang bordir hingga ibu-ibu rumah tangga diperbantukan dalam usahanya.

Bupati Batang Wihaji saat mengunjungi kerumah produksi Tri Amalia mengatakan, pihak Pemkab siap membantu dalam pengembangan UMKM yang ada. Termasuk usaha pembuatan masker tersebut, jika saat ini punya rencana untuk menjualnya ke negara lain, maka Pemkab sebisa mungkin akan membantu.

“Keunggulan dari masker cantik buatan Amalia adalah aman jika dipakai, meskipun orang tersebut kulitnya sensitif. Dari 30 varian masker yang paling diminati adalah masker hijab, masker pengantin dan masker merah putih. Dan tadi dikatakan bahwa mereka berencana akan memperluas penjualan ke negara lain, maka Pemkab akan siap untuk membantu,” tandas Bupati Wihaji. (don)