SOP Dimasa Pandemi, Karaoke Dilarang Sediakan PL

by
Ilustrasi ruangan karaoke. Radar Banyumas

Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk pembukaan tempat hiburan khususnya tempat karaoke, saat ini tengah dipersiapkan. Langkah tersebut dilakukan guna mencegah penyebaran Covid-19 di lokasi karaoke.

Kabid Pariwisata Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Wakhyono mengatakan saat ini draft Surat Edaran (SE) terkait tata cara membuka karaoke. “Saat ini draftnya sudah di bagian hukum. Di dalamnya mengatur setiap tempat karaoke harus membuat gugus tugas, protokol kesehatan, sarana prasarana dan SOPnya,” katanya.

Pada prinsipnya, menurut dia, protokol kesehatan semua orang sudah tahu. “Yang paling utama, jika gugus tugas di dalam tempat itu tidak berjalan dengan baik, maka protokol kesehatan itu akan diabaikan. Karena bisa menjadi media penularan Covid-19,” katanya.

Di masa pandemi ini, lanjut dia, tempat karaoke juga dilarang menyediakan Pemandu Lagu (PL). “Ini untuk sementara di masa pandemi ini. Karena kan PL ini biasanya berdekatan. Padahal aturannya menjaga jarak paling tidak 1,5 meter,” kata dia.

Untuk ijin durasi buka, nantinya disesuaikan dengan jam malam saat ini. “Untuk SE ini nantinya menunggu koreksi dari bagian hukum. Lalu nanti meminta persetujuan kepada Bupati,”

Untuk persyaratan membuka tempat karaoke, pihaknya menunggu ada persetujuan dari Bupati. Nantinya tempat karaoke mengajukan ijin ke Bupati disertai lampiran dari gugus tugas mandiri dari setiap tempat karaoke. “Serta surat pernyataanakan mematuhu protokol Covid. Jika melanggar untuk bersedia ditutup,” katanya.

Bawa dari Luar

Disisi lain, Sebut saja Mawar. Sang pemandu lagu di karaoke. Dia mengaku sudah menganggur sudah cukup lama. Setengah tahun lebih. Karena pandemi. Tempat kerjanya sampai sekarang belum diijinkan buka.

“Awal-awal setelah karaoke tutup saya nganggur. Tapi setelah itu ngojek sama bantu-bantu COD produk. Kadang tetangga butuh antar kemana, saya antarkan,” katanya.

Itu tak jauh seperti teman seprofesinya. Ada yang jualan makanan, adapula yang jaga toko.

Ia cukup kaget. Setelah diberitahu jika nantinya, kalau karaoke diizinkan buka, untuk sementara tidak diperkenankan menggunakan Pemandu Lagu.

“Kalau tidak memperbolehkan ada pemandu lagu, apakah menjamin pengunjung tidak membawa pemandu lagu dari luar?,” katanya.

Sebab menurutnya, itu masih mungkin terjadi. Ia mengatakan, justru jika pemandu lagu yang ada di karaoke lebih bisa dipantau.

“Kalau kita sudah dikoordinasi. Ada aturannya. Juga pasti dijaga soal kesehatannya,” tuturnya.

Perusahaan menjamin soal kesehatannya.

Nyaris senada, Putri. Panggil saja begitu. Itu nama saat ia berada di ruang karaoke. Tak jauh beda. baginya, profesinya itu menjadi satu-satunya tempat ia bekerja.

“Ya ijazah SMA, mau daftar mana lagi. Lagian saya juga sudah punya anak,” begitu kata dia.

Putri menambahkan, akan lebih baik jika memang dilarang, maka dicarikan solusi lain. “Misal mengadakan pelatihan atau seperti apa. Agar kita juga punya skill,” tandasnya.

Sementara itu, dalam rapat covid yang berada di Pendopo Si Panji, Jumat (23/10), Sekretaris Dinporabudpar Banyumas Suwondogeni menyampaikan, para pelaku usaha karaoke sudah sepakat untuk tidak membawa pemandu lagu.

“Intinya mereka para pelaku usaha sepakat untuk melindungi para konsumennya. Salah satu syaratnya, yang boleh masuk karaoke usia 17-50 tahun,” katanya.

Namun, oleh Bupati Banyumas ir Achmad Husein, pembukaan karaoke masih belum diizinkan. Bertahap. Sektor lain terlebih dahulu.

“Karaoke jangan buka dulu. Diputuskan setelah libur panjang ini,” tandasnya. (mhd/radarmas)