Peran Santri di Era Pergeseran Global

by

Kedua, kontekstualisasi.Tak dapat dipungkiri bahwa santri memiliki sejarahnya yang panjang di negeri ini. Pun demikian dengan keilmuannya. Namun tak kontekstulisasi kesantrian dan kelimuannya, santri hanyalah katak dalam tempurung. Inilah yang dilakukan oleh Gus Dur pada 1980-an dengan Pribumisasi Islam. Gagasan Gus Dur ini kemudian menjadi perdebatan bagi banyak kalangan. Konsep ini menggambarkan bagaimana Islam sebagai ajaran normatif yang bersumber dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya. Peran santri kemudian adalah menjadi aktor di antara ajaran normatif dan kebudayaan itu.Meminjam istilah Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A., kiai (atau santri) menjadi penyambung lidah bahasa langit menjadi bahasa manusia. Jika bertemu orang awam, santri mampu membahasakanajaran agama denga mudah, bertemu akademisi, santri mampu berbahasa agama yang ilmiah, dan lain sebagainya. Pada generasi selanjutnya, kita dapat melihat bahwa intelektual muslim dari kalangan santri adalah mereka yang berhasil melakukan kontekstualisasi ajaran agama. Dengan cara ini,santri akan berpikiran terbuka dan menerima setiap perubahan zaman.

Ketiga, agensi (keterwakilan).Sebagaimana dalam catur, setiap bidaknya memiliki peran masing-masing. Bahkan yang perannya paling kecil sekalipun akan dapat menjelma bidak dengan posisi strategis sejauh ia punya hasrat untuk terus maju melintasi garis lawan yang penuh risiko.Artinya, santri mesti paham peluang dan tidak alergi dengan “konfrontasi” dengan berbagai pihak.Tak dipungkiri bahwa sebagai manusia, santri memang memiliki keterbatasan. Namun dengan jumlahnya yang sangat besar dan mayoritas, mestinya peran itu dapat dibagi. Ada yang berperan sebagai pendidik atau dosen, santripreneur, ahli IT dan profesi lainnya. Demikian juga santri berpirah langsung kepadamasyarakat baik di tingkat RT, di tingkat RW, di kantor desa, di kantor kecamatan, di kantor-kantor dinas, di Gedung DPR dan pula di kantor walikota. Dengan berbagi peran seperti ini, santri akan dapat menyongsong kebangkitannya yang kedua.

Tiga kunci di atas seperti tangga piramida yang musti dilewati dari bawah. Jika pada tahap pertama (aktualisasi) sudah gagal, santri tak ubahnya bukan santri atau tetap santri yang menguburkan kesantriannya dengan penuh protokol kesantrian yang kerap merasa “takut salah”, “masih ada yang lebih tua” dan lain sebagainya.Karakter santri yang demikian akan mudah terkena “tikung” pihak lain.

Berpuluh tahun santri telah ditikung dan dikikis perannya, tapi ia tetap tampil aktual dan kontekstualmeski terus dihantam. Hantaman itu dirasakan semakin kuat. Namun tak goyah dan justru berbalik menguatkan kesantriannya. Saatnya bergandeng tangan dan “Mari, Bung, rebut kembali!”.(*)