Peran Santri di Era Pergeseran Global

by

Oleh: HM. Machrus Abdullah, Lc., M.Si
Dosen Unikal, Santripreneur

DALAM konteks kebangsaan dan nasionalisme, santri kerap membenturkan jasa-jasanya di masa lalu, sehingga merasa berhak menjadi pewaris yang sah atas bangsa ini. Bahwa santrilah yang dulu ikut berjuang melawan penjajah,turut dalam pembentukannegara ini, sehingga merasa paling nasionalis. Hal ini justru menjadi otokritik bagi santri sendiri. Apakah santri akan terus membanggakan jasa pendahulunya seperti anak yang mengunggulkan jasa orang tuanya tanpa mampu berbuat banyak untuk negerinya?

Menjelang 100 tahun Nahdlatul Ulama (NU), Hari Santri pada Oktober tahun ini patut menjadi permenungan bersama. Apa yang bisa perbuat untuk hari ini? Perjuangan santri di masa lalu adalah sejarah bagi santri saat ini, dan sejarah seperti apa yang akan kita ciptakan untuk santri berikutnya?Atau apakah kita cukup bangga dengan mewariskan cerita sejarah masa lalu, terus-menerus direpetisi?



Perjuangan santri di medan perang memang tak ada cacat sejarah. Pun demikian dengan medan dakwah, santri pernah menjadi penguasa di medan ini di berbagai wilayah di Indonesia. Dalam berbagai majelis, ritual keagamaan maupun upacara daur hidup, santri menjadi tokoh utama yang dijadikan rujukan. Namun kondisi ini berubah ketika medan dakwah tak lagi tunggal di atas panggung, melainkan bergerak masuk ke ruang-ruang privat melalui layar gawai. Medan dakwah yang mengecil tetapi menembus batas teritori ini menjadi ruang medan perebutan yang sengit.

Di masa pandemi ini, peran internet semakin kuat dan meluas sehingga terjadi migrasi besar-besaran penduduk dunia. Bukan secara fisik dari satu tempat ke tempat yang lain, melainkan dari dunia nyata ke maya, dari luring ke daring, dari manual ke digital, ke virtual. Inilah pergeseran global yang akan membuka banyak peluang pasar dunia, termasuk dakwah di dalamnya. Untuk itu, santri perlu membekali diri sebelum melakukan perjalanan panjangyang tak melelahkan.

Menghadapi medan kiwari, santri membutuhkan tiga kunci untuk kembali merebut medan yang pernah dikuasainya.Pertama, aktualisasi.Setiap orang membutuhkan aktualisasi diri dengan cara menampilkan kemampuannya. Untuk inilah santri ditempa bertahun-tahun di pesantren. Dibanding lulusan umum, santri memiliki keunggulan dalam pengetahuan dan kecerdasan karena disokong piramida keilmuan yang kuat. Kelemahannya adalah lambat, tidak yakin atau bahkan tidak berani ambil bagian di tengah masyarakat.Keunggulan dan kelemahan ini harus disadari oleh santri sehingga dapat bersiasat untuk mengaktualisasikan diri.