Semakin Tua Semakin Cantik

by

Oleh Waidi Akbar

Mempercantik diri  untuk fisik  berujung pada puncak kejelekan wajah manusia: pocong; mempercantik jiwa  berujung pada puncak kecantikan: arif bijaksana yang dicintai semua orang dan  Allah. Itulah kurang lebih hasil renungan saya pada suatu ketika.

Bangun tidur dengan muka kusut, saya masuk ke kamar mandi melakukan rutinitas harian. Selajutnya ambil air wudlu untuk menjalani ibadah shalat subuh. Tanpa sengaja, mungkin karena gerak otomatis tanpa sadar, saya mengambil sisir dan berdiri di depan cermin. Tiba-tiba saya tersadarkan: wajah saya jauh lebih tua.  Ada perasaan tidak rela bahwa wajah saya sudah tidak lagi lebih segar, seperti kala masih muda. Ini sebuah keniscayaan, bahwa fisik manusia akan menua dan semakin jelek.

Namun sejurus dengan ketidakrelaan tadi, sejurus saya mendapatkan sebuah nasihat dari dalam diri saya, dari yang paling dalam, hati nurani yang terus menyuarakan kebenaran. Katanya, wajah boleh tua, boleh keriput, tetapi pikiran, mentalitas tidak akan pernah mengalami proses penuaan. Mentalitas, kualitas berpikir dan kualitas hati selalu tumbuh menjadi muda, menjadi lebih segar: selalu memperbarui dan mempercantik dirinya.

Secara kodrati, manusia mengalami penuaan yang tercermin di wajah dan kulit semakin keriput. Dan entah mengapa, kita setuju bahwa semakin tua fisik kita semakin kurang menyegarkan mata, semakin jelek wajah kita: kempong perot. Meski secara fisik waktu masih muda tampan/cantik,  pada saatnya nanti (tua) sama jeleknya dengan mereka yang sejak lahir tidak tampan/cantik. Yang  tampan/cantik dan tidak tampan/ tidak cantik, keduanya akan mengalami titik kulminasi wajah jeleknya yakni: ketika tubuh kita dikafani dengan kain mori warna putih yaitu pocong! Siapa yang berani bilang bahwa pocong itu tampan/cantik? Mungkin tidak ada. Itulah fisik.

Berbeda dengan mentalitas dan kualitas pikir semakin tua cara berpikirnya semakin sistematis, semakin arif, semakin berkualitas tercermin dalam akhlakul karimah. Aneh memang. Mempercantik diri  untuk fisik  berujung pada puncak kejelekan manusia: pocong; mempercantik mentalitas berujung pada puncak kecantikan: arif bijaksana yang semua orang dan dicintai Allah. Jadi silakan pilih dalam hidup ini pilih fisik atau mentalitas/ruhani.

Seseorang yang senantiasa mempercantik diri mentalitasnya, semisal kualitas pikiran dan akhlaknya, akan berujung pada kualitas ilmunya. Ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan dan akhirat (pahala yang terus mengalir). Kalau hidup adalah pilihan, saya lebih cenderung memilih dan mempercantik ruhani  dengan tidak mengabaikan kesehatan fisik tentunya. (*)

*) Waidi Akbar Professional Coach on Personal Development, Career,and Leadership. Rubrik Pengembangan diri ini bersifat interaktif, untuk pertanyaan dapat diajukan ke email waidi@unsoed.ac.id