Platform Guru Penggerak Merdeka Belajar, Jembatani Kepentingan Nasional dan Lokal

by
KOLABORASI-Program PINTAR Tanoto Foundation inisiasi ngobrol bareng GM Koran Harian Radar Pekalongan Ade Asep Syarifuddin, dan Disdikbud Kendal Wahyu Yusuf Ahmadi di Hotel Sae Iin Kendal, dengan tema Kolaborasi Tingkatkan Kualitas Pendidikan. NUR KHOLID MS

KENDAL – Tenaga pendidik (guru penggerak, red) ketika dalam pembelajaran pasti mempunyai ide dan gagasan besar. Belajar seperti apa yang sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman dan mampu bisa menjawab persoalan 10 atau 20 tahun yang akan datang. Guru model apa yang sebenarnya bisa menjawab tantangan tersebut. Ini patut menjadi pemikiran bersama. Tentu dalam benak pimpinan Radar itu menjadi terusik seperti apa ketika persepsi guru-guru itu mendengar ungkapan guru penggerak merdeka belajar.

“Penterjemahan guru penggerak merdeka belajar adalah sebuah situasi saat guru secara kontinuitas (profesi melekat) menjadi guru pembelajar yang selalu mengevaluasi hasil mengajarnya, prestasinya dan selalu tidak puas dengan apa yang dilakukannya,” kata General Manajer (GM) Koran Harian Radar Pekalongan Ade Asep Syarifuddin, saat Ngobrol Bareng Sambil Menikmati Secangkir Kopi bersama Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kendal, Wahyu Yusuf Ahmadi, yang diinisiasi Program PINTAR Tanoto Foundation, di Hotel Sae Iin Kendal, Jumat (16/10/2020), dengan tema “Kolaborasi Tingkatkan Kualitas Pendidikan”.

Selain Anang Ainur Roziqin Communication Specialist at Basic Education, tampak juga hadir Yenny Efisari Bidang Pemerintahan dan Kerjasama dan Ardi K Wardhono Koordinator Kabupaten.

Ade Asep mengungkapkan, mencari hal yang baru, tantangan baru sehinga dari waktu ke waktu apa yang dilakukan itu aptudate. Sebagai gambaran, di Finlandia itu tidak ada kurikulum nasional. Yang ada adalah kurikulum lokal setingkat kabupaten/kota.

“Mengapa karena pemangku pendidikan di negara itu mengetahui persoalan pendidikan yang dihadapi di setiap daerahnya. Terima kasih kepada Tanoto Foundation. Saya menyambut baik pertemuan awal untuk kolaborasi ini” ungkapnya.

Hal ini tentu berbeda dengan kebijakan pendididikan yang menerapkan kurikulum 13 (K13) yang ada saat ini. Padahal persoalan pendidikan di setiap daerah pun berbeda dan punya karakteristiknya masing-masing. Lain halnya dengan Jakarta, tantangan pendidikan di Papua jauh lebih berat. Mengapa, karena semua akses terkait pendidikan di daerah yang menjadi ibu kota negara tersebut sangat mudah untuk didapatkan.

“Keberadaan guru penggerak diharapkan dapat menjembatani kepentingan nasional dan kepentingan lokal,” jelas Asep Ade Syarifuddin.

Menurut Ade Asep karena guru adalah manusia yang berkutat di dalam pemikiran. Orang yang terlatih dalam pemikiran itu adalah yang melakukan tradisi tiga hal yaitu membaca, menulis dan diskusi. Sehingga dengan melakukan tradisi tiga hal itu secara konsistensi maka platform pemikiran guru akan dapat diketahuinya.

“Mengingat platform tersebut dinilai akan menghadirkan berbagai pemikiran, ide, aspirasi dan bahkan advokasi,” ujarnya.

Yang menarik dengan adanya platform itu maka guru sudah sampai di titik mana internalisasi dan pemikirannya. Perlunya memberikan stimulus tertentu kepada guru-guru bidang dengan menisbatkannya sebagai guru penggerak yang betul betul merdeka dalam pembelajaran. Yakni dalam kontek mampu mengesplore semaksimal mungkin gagasan pemikiran, baik strategi mengajar dan mampu memahami karakter siswa.

“Karena pada dasarnya tujuan guru mengajar adalah memfasilitasi siswa supaya mencapai tujuannya. Dalam mengajar guru harus menyesuaikan gaya bahasa siswa,” ucapnya.

Ade Asep menyatakan, seperti dalam Bahasa Inggris ada placement test. Dalam dunia pendidikan, mengutip bahasanya Munif Chatif, ada Multiple, Intelligences dan Research (MIR). Sebuah riset atau penelitian untuk mengetahui kecenderungan kecerdasan seorang anak. Tentu ini dapat digunakan sebagai pijakan referensi (rujukan,red) siapapun.

Berbeda halnya, dalam pandangan Ade Asep, karakteristik anak dalam belajar tidak sama, ada siswa audio, kinestetik dan visual sehingga dengan strategi mengajar yang dilakukan guru akan mampu mengakomodir kepentingan gaya belajar siswa. Caranya dengan memberikan stimulus tertentu pada saat memberikan pembelajaran maka akan membuat siswa tidak merasa bodoh.

“Karena pada dasarnya siswa itu pintar dalam bidangnya masing-masing. Misal siswa A nilai matematikanya 7 dan kesenian 9, maka tidak bisa dipaksakan nilai matematikanya supaya bisa jadi 9. Tidak bisa seperti itu,” tandasnya.

Kepala Disdikbud Kendal, Wahyu Yusuf Ahmadi mengapresiasi berbagai pendekatan yang dilakukan untuk perbaikan pendidikan. Konsep merdeka belajar yang kemudian memberikan ruang gerak yang luas untuk bereskplorasi bagi guru dan siswa sebenarnya menemui jalan yang tepat. Saat kondisi pandemi ini menjadi laboratorium besar untuk guru dan siswa, serta dari pemangku kepentingan untuk berkreasi, berkolaborasi, dan berkreativitas.

“Guru-guru di Kendal telah diberikan ruang seluas-luasnya, Konsep coaching atau pendampingan yang disampaikan oleh Pak Asep bisa diterapkan untuk memetakan potensi tim kami di Dinas Pendidikan. Bisa dari pengawas atau kepala sekolah. Ide coaching sampai dengan kolaborasi dalam pengembangan kemampuan menulis bisa segera kita realisasikan,” katanya.

Dalam pertemuan santai itu, beberapa ide kreatif kolaborasi yang akan dikembangkan bersama antara Disdikbud Kendal, Radar Pekalongan dan Program PINTAR Tanoto Foudantion diantaranya pengembangan coaching untuk pendidikan, branding sekolah, pelatihan menulis bertema, penerbitan buku dan penyebarluaskan praktik baik dalam media masing-masing pihak.

“Diskusi ini sebenarnya untuk mempertemukan praktisi pendidikan dengan para top managemen pelaku pendidikan. Kita berharap banyak ide-ide baru dari sudut pandang yang berbeda bisa menjadi solusi untuk pendidikan khususnya di Kendal,” kata Yenny Efisari, Spesialis Pemerintahan dan Kerjasama Tanoto Foundation Jawa Tengah.

Yenny menyebutkan, kesadaran pentingnya melibatkan semua pihak dalam peningkatkan kualitas pendidikan menjadi landasan Tanoto Foundation untuk berkolaborasi dengan pihak lain. Kesamaan visi dan kepedulian terhadap pendidikan menjadi penyambung obrolan santai antara Radar Pekalongan dan Disdikbud Kendal pagi ini.

Menulis dan tulisan adalah produk dari sebuah aktivitas yang berkualitas. Radar Pekalongan memahami hal tersebut. Sehingga penting sekali untuk menguatkan sebuah proses yang komprehesif dan berkualitas sehingga menghasilkan sebuah aktivitas yang berkualitas.

“Dari aktivitas tersebut bisa dituangkan dalam sebuah tulisan. Oleh karena itu, penting untuk mengawal juga proses kreatif tersebut, menulis, mendokumentasikan lalu menyebarkan praktik baik tersebut,” ungkapnya. (lid)