Pesona Janda Bolong yang Diburu Banyak Orang, Harganya Sampai Puluhan Juta

by
Monstera Adansonii atau janda bolong diburu pehobi tanaman hias. (Foto: Istimewa)

Berkebun tanaman hias bisa menjadi salah satu alternatif menghabiskan waktu di rumah selama pandemi corona (Covid-19). Saat ini, pehobi tanaman hias tengah mengandrungi tanaman janda bolong atau istilah ilmiahnya, Monstera Adansonii.

Untuk janda bolong empat daun dulu hanya sekitar Rp 100.000. Kini, pesona janda bolong membuat harga tanaman ini mahal. Untuk janda bolong berukuran kecil saja, harganya mencapai Rp6 juta. Bahkan belum lama ini, janda bolong varietas barunya karena memiliki warna menarik, yakni putih dan hijau dalam satu daun, ditebus dengan harga Rp100 juta.

Permainan Harga?

Fenomena serupa pernah terjadi sekitar 2007 silam, saat tanaman Anthurium Gelombang Cinta menduduki harga yang tak kalah “gilanya”. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran (Unpad), Bandung, Jawa Barat, Syariful Mubarok mengatakan, harga tanaman janda bolong melambung naik bukan karena teknik budaya yang sulit.

Naiknya harga tanaman janda bolong disebabkan budaya “latah”, setelah tanaman ini jadi tren di kalangan pemilik rumah elite dan rumah-rumah yang desainnya minimalis. Syariful Mubarok bahkan menuding ada permainan harga yang sengaja dilakukan untuk mendongkrak harga si janda bolong.

“Ini hanya sebatas dari permainan dagang atau harga untuk tanaman hias,” kata pria yang bergelut di Departemen Budidaya Tanaman ini, dikutip dari laman resmi unpad.ac.id.

Ia lantas mengulas kembali fenomena yang terjadi 13 tahun lalu. Pada saat itu, kenaikan harga fantastis pun pernah dialami oleh Anthurium Gelombang Cinta. Jika sudah banyak yang produksi tanaman ini, menurut Syariful Mubarok, maka akan mengakibatkan harga di pasangan menjadi turun bahkan jeblok hingga tak laku sama sekali.

“Saya pun menakutkan hal tersebut terjadi pada monstera ini. Setelah banyak dibudidayakan dan jumlahnya mengingkat di masyarakat mengakibatkan harganya turun,” jelas dia.

Tanaman Asal Amerika

Janda bolong bukanlah asli dari Indonesia. Tanaman dari famili Araceae ini awalnya tersebar luas di sebagian besar Amerika selatan dan Amerika tengah. Selain di negara-negara Amerika Selatan, tanaman ini juga dapat ditemukan di Hindia Barat di pulau-pulau seperti, Antigua, Grenada, Saba, St Kitts, Guadeloupe, Maire Galante, Dominika, Martinik, St Lucia, St Vincent, Tobago, dan Trinidad.

Monstera Adansonii juga disebut The Swiss Cheese. Julukan ini diberikan karena bentuk daunnya berlubang menyerupai keju Swiss. Nah, hebatnya orang Indonesia, nama-nama ilmiah itu seketika diubah dengan kalimat yang mudah, yakni “janda bolong”. Alasannya sepele, karena daunnya bolong atau berlubang.

Janda bolong diketahui mudah tumbuh dan hidup merambat seperti di tiang atau teralis. Ini juga termasuk tanaman tropis di mana ia bisa tumbuh mencapai 60 kaki atau sekitar 18,2 meter.

Tak Ada Perawatan Khusus
Jika dilihat dari budidayanya, Syariful Mubarok menyebut, tidak ada cara khusus untuk merawat janda bolong. “Yang perlu diperhatikan hanya penyiraman, pemupukan, serta pengendalian hama penyakit,” jelasnya.

Dengan viralnya janda bolong menjadikan masyarakat untuk memanfaatkan lahan pekarangan guna budidaya tanaman hias.

Untuk segi baiknya, nilai ekonomis semua jenis tanaman meningkat. Harga tanaman jenis lain yang berdaun indah ikut naik, dan terbukti saat ini harga tanaman hias seperti anggrek, aglaonema, anthurium, caladium ikut meningkat.

Namun, Syariful Mubarok juga melihat segi buruk dari adanya fenomena ini, yakni harga yang kemungkinan akan turun drastis. “Hal tersebut disebabkan mulai banyaknya yang membudidayakan tanaman serupa, sehingga pada akhirnya tidak memiliki nilai ekonomis lagi,” jelasnya. (ngopibareng)