Ada KIT Batang, Pembangunan Jaringan Pipa Gas Cirebon-Semarang Diharapkan Selesai Dikerjakan

by
Bupati Batang menyerahkan cinderamata kepada Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa usai audiensi.

BATANG – Keberadaan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, diharapkan dapat menjadi pemicu dari pihak kontraktor pembangunan pipa jaringan gas dari Cirebon ke Semarang. Pasalnya, proyek tersebut sudah mangkrak selama 14 tahun, dan salah satunya karena kekhawatiran tidak adanya perusahaan yang akan membeli gas yang dialirkan.

“Kepastian akan adanya sejumlah perusahaan yang masuk ke KIT Batang kami harapkan bisa menjadi penyemangat dari pihak rekanan pembangunan jaringan pipa untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi dari sejumlah investor yang datang ke Batang, telah mempertanyakan kesiapan pasokan gas,” ungkap Kepala BPH Migas, Fanshurullah Asa usai melakukan audiensi Audensi dengan Bupati Batang Wihaji, Jumat(25/9/2020).

Fanshurullah Asa menjelaskan, pekerjaan pemasangan pipa gas Semarang-Cirebon yang ditarget 2 tahun selesai dan sudah dilelang sejak 2006, dengan PT Rekayasa Industri sebagai pemenang. Namun belum juga ada progresnya.

Padahal pada saat itu Direktur PT Rekayasa Industri menyatakan kesanggupannya dengan menandatangani di atas materai. Karena sanggup, pihak BPH Migas juga sudah melaporkan ke Kementerian BUMN dan Kantor Staf Presiden untuk melanjutkan pekerjaan sambungan pipa gas Semarang- Cirebon.

Sebagai tindak lanjutnya, maka pada 7 Februari 2020 dilakukan peletakan baru pertama dengan komitmen waktu dua tahun selesai, sehingga 7 Februari 2022 sudah tersalur pipa gas mulai dari Cirebon sampai Semarang. Namun sudah 7 bulan ini belum ada kegiatan penyambungan pipa yang kendalamya bukan masalah pendanaan.

“Persoalannya ada pada siapa yang mau membeli gas, karena katanya pembelinya belum signifikan. Karena itulah, hari ini bersama anggota DPR dan juga pihak rekanan, kami menghadap bupati karena KIT Batang luar biasa potensinya, bahkan Presiden langsung yang meresmikan. Oleh karena, kami berharap KIT Batang bisa menciptakan siapa yang mau beli gasnya agar ada kepastian penyambungan pipa gas guna memenuhi kebutuhan industri yang akan dibangun,” jelas Fanshurullah Asa.

Pihak BPH Migas sendiri tidak akan berhenti, untuk terus mendorong agar pembangunan jaringan pipa gas bisa segera diselesaikan, dan pihak rekanan juga tidak perlu khawatir terkait adanya pembeli. Mengingat KIT Batang sudah masuk dalam proyek strategi nasional yang langsung diawasi Presiden.

“Kita optimis nantinya kebutuhan gas di KIT Batang akan cukup besar, dengan stimasi gas yang bakal masuk untuk memenuhi kebutuhan minimal satu investor sekitar 100 MN,” tandas Fanshurullah Asa.

Sementara Bupati Batang, Wihaji mengatakan permasalahan pipa gas yang belum kunjung dikerjakan akan segera menemukan solusinya. Apalagi setelan pihak rekanan melihat secara langsung progres pembangunan KIT Batang yang saat ini tengah dikebut.

“Tidak ada permasalahan yang tak terpecahkan. Semua hanya butuh ketemu dan diskusi untuk mencari solusi agar kepastian ketersedian gas di KIT. Dan saya menyakini setelah melihat langsung kondisi lapangan dan potensi yang ada, pihak rekanan bakal menyelesaikan pembangunan jaringan pipa gas,” pungkas Bupati Wihaji. (don)