Bupati Wihaji Ancam akan Bereskan Satpol PP Jika Masih Ada Anak Punk Berkeliaran di Batang

by
Satpol PP Batang mengantarkan seorang anak punk kembali ke keluarganya. Istimewa

BATANG – Dinilai sudah meresahkan masyarakat, Bupati Batang, Wihaji memerintahkan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) untuk tegas terhadap anak punk.

Bahkan, Bupati mengancam akan ‘membereskan’ Satpol PP jika masih ada anak punk yang berkeliaran di Batang. “Saya sudah perintahkan pada Satpol PP mulai Minggu (6/9/2020) agar di Batang tidak ada lagi anak punk yang berkeliaran. Dan jika masih ada, maka Satpol PP yang akan saya ‘bereskan’,” tegas Bupati Wihaji ketika ditemui usai sidang paripurna di gedung DPRD Batang, Senin (7/9/2020).

Bupati Wihaji menjelaskan, pihak Satpol PP sendiri sudah berulang kali meneruskan keberadaan anak punk di sejumlah lokasi di Batang. Langkah tersebut dilakukan karena keberadaanya sudah meresahkan masyarakat, dan menjadi pemandangan yang tidak indah di Kota Batang.

“Setelah kita selidiki, ternyata banyak diantara anak-anak punk itu yang ikut-ikutan saja. Dan dari data yang kita kumpulkan, ternyata latar belakang mereka sangatlah komplek. Ada yang karena faktor ekonomi atau masalah keluarga, sehingga memilih hidup di jalanan. Karena itulah, setelah dirazia, mereka kita kirim ke pantai sosial dengan harapan ada perubahan bisa hidup lebih baik lagi, dan mereka tidak lagi kembali ke jalanan,” jelas Wihaji.

Wihaji juga mengungkapkan, untuk menyadarkan anak punk, pihak Pemkab Batang sudah berkali-kali mengirim mereka ke keluarganya ataupun panti sosial di Semarang serta rumah singga di Solo. Namun pada kenyataanya banyak diantara mereka justru kembali lagi ke Batang.

“Oleh karena itu, kali ini kita tidak mentolerir anak punk di Batang ini, dan itu menjadi tugas Satpol PP Batang,” tandas Wihaji.

Sementara Kepala Dinas Sosial Kabupaten Batang Joko Tetuko mengatakan, sejak Januri hingga 7 September, pihaknya sudah menangani pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) sejumlah 5 orang, dan 35 anak.

“Untuk PGOT ataupun anak punk sendiri kita kirim ke panti sosial Semarang, karena Batang belum memiliki rumah singgah. Selain itu, ada juga yang kita kembalikan ke keluarganya,” pungkas Joko Tetuko. (don)