Menguak Tujuh Rahasia Gaya Kepemimpinan di Kabupaten Pekalongan (3)

by
Menguak Tujuh Rahasia Gaya Kepemimpinan di Kabupaten Pekalongan
DIFOTO - Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi dikerubuti oleh ibu-ibu dari berbagai kecamatan di Kabupaten pekalongan untuk berfoto bersama. FOTO: ASEP

*Berpikir dan Berwawasan ke Dunia Global

Apakah kita hidup dan tinggal di Pekalongan? Betul, namun interaksi kita tidak dapat dibatasi lagi oleh wilayah geografis yang sempit. Kita bisa bergaul dan berinteraksi dengan dunia global dengan modal bahasa yang kita miliki. Kabupaten Pekalongan terletak di Jawa Tengah, namun harus dikenal di berbagai belahan dunia. Berikut catatan wartawan Radar Pekalongan A. ASEP SYARIFUDDIN

Menguak Tujuh Rahasia Gaya Kepemimpinan di Kabupaten Pekalongan
DIFOTO – Bupati Pekalongan H Asip Kholbihi dikerubuti oleh ibu-ibu dari berbagai kecamatan di Kabupaten pekalongan untuk berfoto bersama.
FOTO: ASEP

Kabupaten Pekalongan memiliki peluang untuk berinteraksi dengan siapapun di seluruh belahan dunia ini, baik dari negara Indonesia mupun dengan negara di luar Indonesia. Peluang untuk bekerjasama dengan kota di luar negeri pun sangat terbuka lebar. Dulu-dulu untuk melakukan kerjasama seperti ini agak sulit karena aturan mainnya belum terbuka seperti sekarang.

Kabupaten Pekalongan setahap demi setahap melakukan hal itu. Mulai dari mengunjungi negara Korea Selatan, kemudian ada kunjungan balik dari Korea ke Kabupaten Pekalongan. Tidak terbatas hanya itu, Kota Rotterdam yang menjadi kota rob di Belanda, juga dikunjungi oleh Bupati Pekalongan dan team dan bertemu dengan HHSK, lembaga yang bertanggung jawab terhadap manajemen air di sana. Dari Rotterdam pun sudah ada kunjungan balik, untuk survei wilayah rob dan memberikan masukan-masukan bagaimana caranya membangun tanggul raksasa atau the great wall yang dapat mengantisipasi rob di Kabupaten Pekalongan.

Terakhir, adalah kunjungan ke Amerika Serikat, juga untuk memperkenalkan Kabupaten Pekalongan kepada komunitas-komunitas bisnis yang ada di sana. Bahkan radio Voice of America (VOA) memberikan kesempatan untuk wawancara langsung dengan Bupati Asip di depan gedung putih. Langkah-langkah spektakuler tersebut tiada lain untuk mempromosikan Kabupaten Pekalongan ke semua kalangan.

Bupati Asip pernah berbincang dengan saya tentang ikon Kota Brussel di Belgia. Di sana ada patung anak kecil sedang pipis yang dikenal dengan Mannekin Piss. Patung tersebut berada di sudut kota, tidak terlalu besar, berganti-gani pakaian sesuai dengan tema saat itu, namun karena mereka pandai mengemas dan mempromosikan Mannekin Piss, seluruh dunia menjadi tahu bahwa Belgia adalah Mannekin Piss.

Di Kabupaten Pekalongan ada batik, ada curug bajing, ada Petungkriyono, ada Watu Ireng dll, potensi yang ada tersebut kalau dikemas dengan cara tertentu kemudian dipromosikan secara terus menerus, maka akan menjadi ikon yang terkenal ke seluruh dunia. Ditambah lagi dengan cerita dan kisah di balik tempat tersebut akan menambah ingatan orang yang datang ke sana.



Sekarang ini serba mudah, dunia ada dalam genggaman kita, miniatur dunia adalah handphone android yang kita punya. Yang bisa akses internet, yang bisa akses ke google, cukup mengetik kata kunci tertentu, maka kita akan bisa melihat berita dan gambar yang kita maksud. Team promosi faham betul, bagaimana caranya membranding sebuah kota, sehingga bisa terkenal ke mana-mana. Tidak hanya dikenal oleh tetangga kota, tapi juga dikenal di seluruh dunia.

Mengapa China sekarang ini sangat terkenal? Dulu-dulu negara-negara di Eropa dan Amerika saja yang terkenal. Di Asia Jepang, Korea dan Singapura memiliki branding yang cukup baik. Namun belakangan China bergerak sangat cepat baik brand, ekonomi maupun perkembangan negaranya. Ternyata China melakukan langkah yang tidak sederhana.

Buku China’s Megatrends, 8 Pilar yang Membuat Dahsyat China karya John dan Doris Naisbitt adalah cikal bakal melejitnya negara China. Secara rakayasa sosial dan informasi, buku tersebut membuat skenario bagaimana mereka ulang China pada tahun 2010 sampai menjadi China seperti sekarang. Kita masih ingat buku Megatrends 2000, buku Global Paradoks, buku-buku tersebut karya penulis yang sama dengan buku China’s Megatrends.

John Naisbit adalah seorang futuristik, meramal masa depan di bidang sosial, ekonomi bahkan politik. Sudah tentu ramalannya berbeda dengan ramalan bintang yang penuh dengan klenik. Naisbit meramal berdasarkan riset lapangan yang dilakukan selama berbulan-bulan. Melakukan proses wawancara dari satu tokoh ke tokoh lainnya sampai akhirnya dia membuat kesimpulan berbentuk ramalan, apa yang akan terjadi pada suatu negara 5-10 tahun yang akan datang.

Sebenarnya bukan ramalan, lebih tepatnya adalah skenario masa depan atas suatu kota. Apa yang akan terjadi pada suatu tempat 5-10 tahun yang akan datang sangat-sangat bisa diprediksi. Kalau pemimpinnya visioner, sebuah kota akan terlihat geliat kemajuannya, kalau pemimpinnya memiliki keberanian untuk membuat action atas ide yang ada di kepalanya, semua itu akan terbukti beberapa tahun ke depan, bahkan bisa lebih cepat lagi.

Lantas, apakah Kabupaten Pekalongan bisa diramal 10 tahun yang akan datang dalam kancah global? Sangat bisa. Kalau program, ide, kinerja, komunikasi yang dibangun dengan dunia luar berjalan konsisten seperti sekarang, maka 10 tahun yang brand Kabupaten Pekalongan akan sangat-sangat kuat. Selain itu, efeknya adalah akan datang wisatawan nusantara bahkan mancanegara secara berbondong-bondong ke Kabupaten Pekalongan. Bule-bule akan datang ke Kabupaten Pekalongan dan sangat ingin menginap di Petungkriyono untuk melakukan penelitian.

Tidak hanya penelitian di Petungkriyono, juga penelitian atas batik-batik masa lalu yang memiliki nilai historikal yang tinggi. Dengan tagline “The Legend of Batik”-nya di Kabupaten Pekalongan, bule-bule tidak hanya sekadar belanja batik untuk dipakai sebagai aksesoris busana, tapi juga melakukan riset sejarah batik dari waktu ke waktu. Mengapa yang muncul motif tertentu, apa latar belakangan setting sosial saat itu, bagaimana kondisi sosial ekonomi dan politik saat itu dapat mempengaruhi pikiran para seniman batik. Sehingga goresan lukisan batik dapat merefleksikan situsi dan kondisi saat batik itu dibuat. Wow… ramalan yang dahsyat.

Di sisi lain, karena puncak Bogor sudah terlalu krodit, jalan menuju ke arah sana diberlakukan buka tutup, orang-orang sudah malas ke puncak Bogor karena jarak tempuhnya tidak kurang dari 8 jam. Padahal Jakarta Bogor dalam kondisi lengang hanya sekitar 2 jam sudah sampai. Namun ketika semua warga Jakarta keluar ingin ke puncak, jalan tidak dapat menampung arus yang sangat besar. Apakah nyaman? Tentu tidak. Puncak Bogor adalah tempat yang nyaman, tapi jalan menuju ke sana sudah tidak nyaman lagi.

Sementara ketika ke Petungkriyono dan tempat-tempat wisata lainnya, dengan menggunakan jalan tol yang lancar, perjalanan dari Jakarta-Bojong hanya sekitar 5 jam. Berangkat Jumat sore, Jumat malam sudah bisa menginap di hotel atau homestay. Sabtu pagi-pagi sudah bisa jalan-jalan ke Petung dan bisa melepas kepenatan di tengah hutan yang masih perawan sambil memandang Curug Bajing. Malamnya disuguhi alunan musik tradisional dengan tema batik tutur yang menerangkan cerita di balik sebuah motif atau corak batik tertentu. Keesokan harinya, Minggu pagi wisatawan dapat belanja batik dan kuliner, siangnya check out dari hotel dengan perasaan yang sangat lega dan bahagia. Dunia tanpa batas, go global. (bersambung)

Penulis: Ade Asep Syarifuddin | Radar Pekalongan