Saelany Machfudz, Wali Kota yang Mempelopori Pemakaian Sarung Batik

by
PASAR - Walikota HM Saelany Machfudz SE mengunjungi Pasar Grosir Setono, untuk memmbeli sarung batik, belum lama ini.

Wali Kota menyampaikan bahwa sejak dilaunchingnya sarung batik pada momentum HUT ke-112 Kota Pekalongan Tahun 2018 menunjukkan perkembangan yang luar biasa dimana pamor sarung batik dapat kembali menggeliat di Kota Pekalongan.

Menurut Saelany, sarung batik juga sebagai bagian dari upaya Pemkot Pekalongan untuk mempertahankan predikat Kota Kreatif dari yang diberikan oleh UNESCO yang disandang Kota Pekalongan.

Saelany juga menambahkan, dengan keberhasilan membangkitkan kembali budaya memakai sarung batik di lingkungan Pemkot Pekalongan, pihaknya juga akan meminta kepada instansi vertikal, BUMN, BUMD dan juga perusahaan swasta agar mengikuti penggunaan sarung batik sebagai salah satu seragam untuk melayani masyarakat. “Sarung batik ini tidak hanya dipakai oleh para santri,tetapi siapapun masyarakat umum bisa pakai, sudah kita terapkan pemakaian sarung batik pada ASN Pemkot, kami juga akan meminta instansi vertikal, perbankan,BUMN,BUMD dan instansi swasta menerapkan hal serupa,” ucapnya.

Sementara itu, Husain Ali Halim, salah satu pengrajin sarung batik menyampaikan, permintaan sarung batik mengalami peningkatan sejak dilaunchingnya sarung batik oleh Walikota Pekalongan. “Kebanyakan datang dari daerah Kudus dan kota/kabupaten di Jawa Timur,” ucapnya.

Ketua Pengelola Pasar Grosir Setono menyampaikan, bahwa adanya pandemi Covid-19 cukup berimbas terhadap penjualan sarung batik Pekalongan, khususnya di Pasar Grosir Setono. Namun, ia optimis bahwa setelah berakhirnya pandemi Covid-19 ini, sarung batik Pekalongan akan kembali gencar diburu masyarakat khususnya pembeli dari luar kota.

“Alhamdulillah saat ini sudah kembali normal, berjalan kembali seperti biasa baik produksi dan penjualan sarung batik dari pesanan luar kota hingga prosentase 60 persen. Kami berharap semoga situasi pandemi Covid-19 ini segera berahir sehingga para pengrajin dan pengusaha sarung batik bisa kembali normal dan masyarakat semakin berminat memakai sarung batik serta penjualan sarung batik di Pekalongan semakin meningkat,” tandas Subkhi.

“Maka menjadi tugas kita semua untuk mempertahankan penghargaan dari UNESCO ini. Apabila kita tidak mampu menjaga atau berkreasi dan berinovasi, bisa saja penghargaan dari UNESCO dicabut. Semua pihak harus mendukung agar ikon Kota Pekalongan sebagai kotanya produsen batik tetap lestari.(dur)