Pasien Hendak Melahirkan Kritis, Dokter Hanya Main Hp

by
Ilustrasi: Pixabay/FIN

Manajemen RSUD Andi Sulthan Daeng Radja, Bulukumba kembali disorot. Ibu yang hendak melahirkan lambat ditangani.

Mirisnya lagi, dokter hanya datang main gawai (smarphone) padahal pasien bernama Andi Rasti Dwi Rahayu sedang kritis. Warga Kelurahan Ela-ela, Kecamatan Ujung Bulu itu, akhirnya mengembuskan nafas terakhirnya pada Jumat, 7 Agustus pukul 10.00 wita.

Andi Haris Ishak, orang tua almarhumah menjelaskan, awalnya anaknya dibawa ke Klinik Yasyira untuk memeriksakan kandungan pada Kamis, 6 Agustus. Dokter menyebut usia kandungan Rasti melewati tafsiran persalinan.

Pada malam harinya, Rasti kemudian dirujuk ke RSUD Andi Sulthan Daeng Radja. Dia dirawat di ruang persalinan. Setelah itu, pasien ditinggalkan tanpa perlakuan. Baik bidan, perawat, maupun dokter.

“Anak kami sudah menjerit, tidak bisa melahirkan normal, kenapa tidak cepat ditangani, satu malam penuh tidak didampingi tenaga medis,” jelas Andi Haris seperti dikutip dari Harian Fajar (Fajar Indonesia Network Grup), Selasa, 11 Agustus.

Keesokan harinya, di pagi hari lanjut Haris, seorang bidang datang ke ruang anaknya dirawat. Setelah itu anaknya diinduksi untuk melahirkan secara normal. Padahal sejak awal sudah disampaikan jika pasien tidak bisa melahirkan normal. Itu berdasarkan
rekam medis Klinik Yasyira.

“Anak yang dikandung Rasti ukurannya besar sehingga tidak bisa normal. Lalu saya mengatakan kenapa mau dipaksakan
normal,” urainya.

Setelah itu terjadi kepanikan. Pasien mengalami kontraksi dan membutuhkan perawatan. Suami Andi Rasti, Iksan Ade Musba berteriak dari ruang bersalin. Teriakan ketiga kalinya
baru ditemui bidan. Seorang dokter juga turut hadir menyaksikan, namun bukannya mengambil tindakan, tetapi hanya main gawai.

Pada Jumat, 7 Agustus sekira pukul 10.00 wita, korban dinyatakan meninggal dunia. Keluarga pasien turut menyesalkan karena dokter tidak menyelamatkan anak yang masih hidup dalam kandungan.

“Suami anak saya meminta agar anaknya diselamatkan tetapi tim medis bilang masa mau dioperasi, tidak kasihan sama mamanya. Kemudian berlalu tanpa peduli,” kata Haris.

Humas RSUD Andi Sulthan Daeng Radja, Gumala Rubiah mengungkap, keadaan pasien saat masuk rumah sakit dalam kondisi inpartu. Ditandai dengan adanya pembukaan mulut rahim dan kontraksi, tanda-anda vital dalam batas normal, dan denyut jantung bayi normal.”Makanya diambil keputusan untuk observasi diharapkan dapat melahirkan normal,” jelaanya.

Pada hari selanjutnya, dilakukan pemeriksaan kembali. Namun tidak didapatkan kemajuan persalinan. Sehingga dilakukan induksi persalinan. “Sudah disetujui pihak keluarga,” sebutnya.

Pukul 08.35 wita ketuban pecah spontan dan dilanjutkan diobservasi denyut jantung janin dan kontraksinya. Tiba-tiba pasien syok, sehingga dilakukan tindakan penyelamatan pasien manajemen jalan napas dan bantuan sirkulasi.

Termasuk dilakukam resusitasi jantung paru dan tindakan medis lainnya. Namun pada pukul 10.15 wita, pasien dinyatakan meninggal dunia.

“Kondisi janin saat ibu dinyatakan meninggal hanya satu kali denyutan jantung janin permenit, jika dilakukan tindakan operasi, sangat kecil kemungkinan menyelamatkan
janinnya,” kuncinya. (dir/Fin)