Berbekal Panduan dan Peraga, Permudah Siswa Pahami Pelajaran

by
MENGAJAR - Jumaratun, guru SDN 01 Gemuh, tengah melakukan pembelajaran tatap muka melalui pembelajaran visit home dengan terapkan protokol kesehatan.

*Pembelajaran Visit Home Terapkan Protokol Kesehatan

KENDAL – Usianya memang tak muda lagi, namun semangatnya mengajar luar biasa. Berbekal buku panduan pelajaran dan beberapa produk untuk mandi seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi dan shampo sebagai alat peraganya, salah seorang guru di Sekolah Dasar (SD) Negeri 01 Galih, Kecamatan Gemuh, melakukan visit home ke rumah siswa-siswanya untuk mengajar secara tatap muka ditengah wabah covid-19.

Pembelajaran menerapkan protokol kesehatan. Kegiatan belajar mengajar itu dilakukannya dengan mendatangi empat lokasi berbeda. Apa yang dilakukan guru tersebut mendapatkan apresiasi dari Kepala Disdikbud Kendal yang datang dan melihat langsung proses kegiatan belajar mengajar secara visit home dengan mendatangi rumah anak didiknya tersebut.

Guru tersebut adalah bernama Jumaratun (59) warga Desa Gemuhblanten, Kecamatan Gemuh. Sebagai bentuk tanggungjawabnya sebagai tenaga pendidik, setiap harinya, pada Senin-Jumat, guru yang akrab disapa dengan panggilan Bu Tun tersebut dengan jarak kurang lebih tiga kilometer lebih mengendarai motor berangkat dari rumahnya ke Desa Galih untuk mengajar secara visit home. Dalam sebuah kesempatan belajar di rumah salah satu siswanya itu, guru yang mempunyai dedikasi dan disiplin tinggi itu tampak semangat mengajar tiga siswanya dengan menerapkan protokol kesehatan. Selain berbekal buku modul atau panduan pelajaran, supaya siswanya kelas 1 dengan mudah menangkap materi pelajaran yang diberikan, dengan menggunakan sabun, pasta hingga shampo sebagai alat peraga, Bu Tun terlihat telaten dan sabar memberikan materi yang ada di buku panduan seperti berhitung, menulis dan membaca.

“Baru tiga hari visit home pengajar ini. Metodenya praktik dan ceramah (teori). Ada 15 siswa dan saya bagi pada empat rumah dengan lama belajar sekitar setengah jam,” kata Jumaratun, Rabu (5/8) pagi, guru yang sudah 39 tahun mengabdikan diri menjadi tenaga pendidik tersebut.

Jumaratun, mengungkapkan sebelum pembelajaran visit home, ia sudah mempraktikkan pembelajaran daring maupun luring. Pembelajaran daring dilakukannya melalui group WhatsApp (WA). Sedangkan luring dengan memberikan penugasan kepada siswa-siswanya yang diambil oleh setiap orangtua siswa. Namun, ia menilai bahwa kedua metode itu tak berhasil membuat anak didiknya paham dan mengerti pelajaran. Skema daring dirasa lebih berat untuk diterapkan pada siswa kelas satu sekolah dasar yang notabenenya peserta didik baru. Bahkan tak sedikit dari siswanya kesulitan dalam memahami pelajaran khususnya hitung-hitungan dan cenderung mengandalkan bantuan orangtua. Adapun skema pemberian tugas tak berjalan maksimal karena tidak semua orangtua punya waktu untuk mengambil tugas di sekolahan.