Dibanding Bagi Kuota, Komisi C Pilih Optimalisasi Telecenter

by
RAPAT KERJA - Komisi C menggelar rapat kerja bersama Dinas Pendidikan dan Dinas Komunikasi dan Informatika membahas terkait upaya mendukung pembelajaran daring.

Selain lebih efektif, Mustofa melihat bahwa pemberian kuota, meskipun ditujukan bagi warga miskin, juga akan kembali ‘diperebutkan’ oleh masyarakat. “Jadi walaupun ini judulnya untuk warga miskin, tapi pasti akan banyak yang minta nantinya. Jadi lebih baik diganti dan dialokasikan untuk optimalisasi telecenter,” tambahnya.

Hal yang sama disampaikan Sekretaris Komisi C, Nashrullah. Dia menyatakan bahwa anggaran pembelian kuota sangat besar namun standar atau tingkat keberhasilan sulit untuk diukur. “Anak-anak kalau diberi kuota, sejauh mana aksesnya untuk pembelajaran. Karena saat ini saja bagi yang sudah punya kuota standar keberhasilannya seperti apa masih sulit diukur,” katanya.

Anggota Komisi C, M Bowo Leksono dalam kesempatan tersebut mempertanyakan kondisi telecenter dan bagaimana upaya untuk mengoptimalkan guna membantu pembelajaran daring bagi siswa. Sebab berdasarkan keterangan dari Dinkominfo bahwa seluruh aset yang ada di telecenter bukan di bawah Dinkominfo.

“Katanya ini aset bukan milik Dinkominfo, bukan milik kelurahan. Miris juga karena telecenter ini tidak bisa diapa-apakan karena ada aturan bahwa anggaran tidak bisa digunakan untuk aset yang bukan miliknya. Apalagi ini barang-barang IT yang tentu kalau tidak digunakan akan mengalami penyusutan fungsi dan nilainya,” kata Bowo.

Dia juga menyatakan bahwa pembelajaran daring dirasa menyulitkan baik dari pihak siswa maupun guru. Komisi C dikatakan Bowo sudah melakukan sidak ke hampir semua SMP dan sebagian SD. Dari sidak, diketahui bahwa semua guru mengeluhkan bagaimana membuat bahan ajar untuk pembelajaran daring. “Kendalanya sangat banyak dan akhirnya pembelajaran daring ini tidak efektif,” ujarnya.