Kisah Sang Guru, Tertolong Cuci Darah dengan JKN-KIS

by
MURTINI

Pekalongan – Menjadi seorang guru pengajar adalah cita-cita dan pengabdian bagi Murtini (44). Mengajar di SDN Purwoharjo, Murtini yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Daerah menceritakan pengalamannya mempergunakan kartu JKN KIS.

Ketika mengetahui dirinya menderita Chronic Kidney Disease (CKD) atau gagal ginjal, awalnya Murtini memiliki rasa ingin menolak kenyataan hingga suatu saat ia mengalami sesak napas yang sering dengan diiringi pinggang yang sakit.

“Akhirnya saya berobat dan masuk ke RSUD Kraton Kabupaten Pekalongan, dan dengan melalui serangkaian pemeriksaan dan tes laboratorium saya pun dinyatakan mengalami gagal ginjal,” ceritanya kepada Jamkesnews, Senin (08/06).

Murtini harus menjalani serangkaian cuci darah setiap 2 kali dalam seminggu. Ia sempat mengalami kekhawatiran karena sering mendengar kabar bahwa cuci darah itu biayanya sangat besar sekali. Dengan penghasilannya sebagai seorang PNS guru pun akan memberatkan sekali. Setelah menjalani beberapa kali cuci darah kekhawatiran tersebut sirna karena selama ini cuci darah yang dijalani sama sekali tidak dipungut iur biaya berkat JKN-KIS.

“Rumah sakit menjalankan tugasnya dengan baik, saya puas dengan pelayanan mereka. Dokter dan perawat pun sangat sabar dan membantu sekali proses pengobatannya,” ungkap Murtini.

Selama menjalankan perawatan pun di rumah sakit, ia merasa nyaman karena mendapatkan perlakuan yang sama seperti pasien-pasien umum lainnya. Murtini bersyukur dengan Program JKN KIS ini, kesehariannya sebagai guru pengajar dapat berjalan dan beraktivitas kembali seperti biasanya. Murtini pun berharap agar Program JKN KIS tetap berjalan dan memberikan perlindungan jaminan kesehatan bagi seluruh masyarakat Indonesia, dan tentunya banyak sekali masyarakat sudah tertolong dengan adanya program ini.

“Semua pihak harus membantu program ini terus berjalan, bukan hanya Pemerintah dan BPJS Kesehatan, semua elemen masyarakat pun harus membantu agar Program JKN-KIS tetap ada,” ucap Murtini. (ma/ey)