Alhamdulilah, Peneliti Indonesia di Amerika Temukan Vaksin Covid-19

by
Ilustrasi Covid-19. Pojoksatu

Kabar gembira datang dari peneliti Indonesia yang kini menetap di Amerika Serikat, Prof Taruna Ikrar.

Peneliti Obat dan Vaksin yang merupakan Anggota American Society of Gene and Cell Therapy di Amerika Serikat ini menemukan vaksin Covid-19 untuk dapat digunakan di Indonesia sehingga tidak tergantung lagi dengan impor.

Taruna menemukan vaksin Covid-19 berbasis personalized atau yang dikenal dengan istilah dendritic cells vaccines.

Metode ini juga kerap kali digunakan sebagai alternatif pengobatan kanker.

Demikian disampaikan Taruna saat menjadi pembicara webinar Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, ACCP, UNIM, RS PMC Jombang, ICMI NTB dan lembaga lainnya bertajuk ‘Perkembangan Vaksin Covid-19 Terkini’, Sabtu (1/8), dilansir RMCO.id.

Taruna menyatakan, metode dendritic cells ini memang memiliki perbedaan dengan varian kandidat vaksin Covid-19 lainnya.

Akan tetapi, prinsip kerja metode ini, antibodi dikembangkan di luar tubuh penderita selama 2-3 hari.

“Setelah dendritic selnya berkembang maka akan disuntikkan lagi kepada penderita. Alhamdulillah vaksin ini sudah masuk dalam uji klinis tahap 3,” jelas dia.

Taruna yakin. dengan makin majunya teknologi modern, vaksin Covid-19 dapat segera ditemukan.

Dia juga yakin, dunia utamanya Indonesia bisa segera pulih dari virus yang tidak hanya menelan korban jutaan jiwa ini, tapi telah menyebabkan perekonomian dunia ikut rontok.

Taruna berharap vaksin Covid-19 yang berhasil dikembangkannya ini dapat digunakan di Indonesia tanpa harus mengimpor vaksin dari luar negeri.

“Kita harus optimis bisa melewati wabah ini. Toh, beberapa ratus tahun sebelumnya umat manusia pernah melewati wabah penyakit infeksi seperti kolera, polio, campak dan lain-lain,” ujarnya.

Dengan upaya vaksinasi dan pengembangan herd immunity, umat manusia bisa mengeliminasi penyakit-penyakit tersebut.

“Apalagi di era saat ini dengan kemajuan tekhnologi farmakologi modern tentunya ada banyak upaya pengembangan vaksin yang telah dilakukan untuk mengendalikan wabah Covid-19,” kata Profesor dan Dekan di Pacific Health Sciece University, California ini.

Taruna menyebutkan, dalam beberapa bulan ini sudah ada 155 kandidat vaksin yang telah dikembangkan dan 27 di antaranya telah dilakukan uji klinis pada manusia.

“Alhamdulillah 11 di antaranya telah masuk tahap uji klinis yang kedua,” lanjut dia.

Taruna menjelaskan, beberapa teknik telah dikembangkan dalam pengembangan vaksin tersebut.

Pertama, melemahkan virus SAR COV-2. Kedua, recombinant atau protein subunits vaccine. Ketiga, plasma convalescent of Sars Cov-2-infection.

Khusus metode ini, ungkapnya, telah digunakan di Amerika Serikat sebagai pengobatan standar Covid-19.

Adapun di Indonesia masih dalam tahap uji klinis.

Keempat, vaksin berbasis personalized atau yang dikenal dengan istilah dendritic cells vaccines, yang mana metode ini juga kerap kali digunakan sebagai alternatif pengobatan kanker.

Taruna tengah mengembangkan metode keempat ini sebagai vaksin Covid-19.

Jebolan Universitas Hasanuddin ini menegaskan tengah berikhtiar membawa metode ini untuk dapat digunakan di Indonesia melalui koordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sehingga Indonesia bisa memiliki vaksin sendiri, tidak tergantung dengan negara lain atau perusahaan internasional farmasi.

“Dengan demikian harga vaksin bisa terjangkau bahkan gratis sehingga dapat mendorong untuk eradikasi Covid-19 di Indonesia,” ujarnya. (ruh/pojoksatu)