Laboratorium Kemiskinan Masuk Top 45 Nasional

by
TERJUN LANGSUNG - Bupati Asip Kholbihi terjun langsung ke pelosok desa untuk menangkap potensi dan menyerap aspirasi masyarakat dalam rangka membangun Kabupaten Pekalongan.

Diinisiasi Bupati Asip untuk Entaskan Kemiskinan

Laboratorium kemiskinan yang digagas Bupati Pekalongan Asip Kholbihi untuk mengentaskan kemiskinan berbasis kearifan lokal mampu masuk Top 45 Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2020. Prestasi ini baru kali pertama diraih oleh Pemkab Pekalongan. Atas torehan ini, Pemkab Pekalongan akan mendapatkan Dana Insentif Daerah (DID) pada tahun 2021.

Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan Yulian Akbar, Rabu (29/7/2020), mengatakan, pada awal dilantik pada tahun 2016, Bupati Pekalongan Asip Kholbihi mendapat dua pekerjaan rumah dari Gubernur Ganjar Pranowo, yakni mengentaskan kemiskinan dan menangani rob. Dikatakan, pada saat itu angka kemiskinan masih cukup tinggi, yakni 12,90%.

Oleh karena itu, Bupati langsung melakukan evaluasi program pengentasan kemiskinan di Kabupaten Pekalongan. Dari hasil evaluasi itu, ada beberapa kelemahan yang harus dibenahi dan dibutuhkan inovasi untuk mengentaskan kemiskinan di Kota Santri.

“Laboratorium kemiskinan ini ide awalnya dari Bupati. Bappeda menerjemahkan dan mengelaborasikan ide dari Bupati kala itu,” terang Akbar.

Dikatakan, kemiskinan ini multi dimensi, sehingga tidak bisa tugas pemerintah semata untuk mengatasinya. Kobalorasi pentaholik harus dilakukan untuk mengeroyok kemiskinan secara terukur.

Disebutkan, kolaborasi pentaholik itu melibatkan pemerintah, desa, swasta atau masyarakat peduli, dan perguruan tinggi. “Anggaran pemerintah terbatas, maka kolaborasi itu kata kuncinya. Kita keroyok bareng-bareng dari APBD, APBDes, swasta, dan perguruan tinggi. Kita alokasikan anggaran secara tepat sasaran dan bermanfaat untuk mengentaskan kemiskinan,” kata dia.

PERSAINGAN KETAT
Untuk menjadi top 45 nasional tidaklah mudah. Persaingan ketat pada saat inovasi tersebut terpilih di daftar top 99 nasional, setelah melalui proses penilaian wawancara virtual, dengan tim yang sebagian besar adalah para profesor, awal bulan Juli lalu harus dilalui.

“Yang sebelumnya kita berada di top 99, sekarang ini hasil dari wawancara virtual awal bulan lalu, menaikkan posisi pada deretan top 45 nasional, serta berhasil menggeser inovasi-inovasi daerah lain, yang semula berada di atas Kabupaten Pekalongan,” kata Bupati Pekalongan Asip Kholbihi.

Menurut Bupati, masuknya daerah yang dipimpinnya dalam deretan inovasi nasional, baru pertama kali diraih. Bahkan, setelah berada di top 99, sudah berhasil naik berada pada urutan kolom top 45 nasional.

“Walaupun baru pertama kali masuk, tapi Alhamdulillah posisi sekarang mampu berada di deretan top 45,” tandasnya.

Asip mengharapkan, dengan tren keberhasilan pada inovasi laboratorium yang mampu mengentaskan 70 persen kemiskinan pada klaster sasaran, seperti masyarakat perkotaan, nelayan, dan masyarakat hutan, bisa menjadi inovasi terbaik nasional.

“Kita berharapnya nanti inovasi ini bisa menjadi terbaik nasional, karena dengan keberhasilannya akan menjadi role model bagi desa-desa dengan klaster kearifan lokal masing-masing. Semoga nanti bisa menjadi yang terbaik, karena akan terus dikembangkan,” jelas Bupati.

Bupati mengaku, saat ini pihaknya juga sedang menggagas inovasi-inovasi lainnya, untuk pembangunan di Kabupaten Pekalongan, sehingga apa yang diharapkan dalam tujuan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat tercapai. (had)