Harga Sewa Lahan di KIT Batang Dipastikan Termurah se Asia

by
JELASKAN - Direktur Strategi Korporasi & HCM PT Pembangunan Perumahan (PT PP) , Yul Ari Pramuraharjo saat memberikan penjelasan kepada rombongan Komisi VI DPR RI. M DHIA THUFAIL

BATANG – Harga sewa lahan di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang dipastikan menjadi yang termurah se Asia Tenggara. Hal itu sebagai upaya untuk menarik perusahaan perusahaan multinasional yang melakukan relokasi dari Tiongkok, China.

“Untuk harga sewa lahan di areal KIT ini, kita pastikan lebih murah dari Vietnam. Karena itu memang sudah menjadi komitmen kita, atas dasar perintah dari Presiden RI, Joko Widodo,” ungkap Direktur Strategi Korporasi & HCM PT Pembangunan Perumahan (PT PP) , Yul Ari Pramuraharjo usai menghadiri kegiatan kunjungan kerja Komisi Komisi VI DPR RI, Kamis (23/7/2020).

Adapun disebutkan Yul Ari, harga sewa lahan di China sebesar Rp 1,2 per m2. Sedang harga sewa lahan di Vietnam mencapai Rp 1,3 juta per m2, dan harga sewa lahan di Malaysia serta Thailand Rp 1,5 juta per m2.

“Nah, sesuai arahan Pak Presiden Jokowi, harga sewa lahan di KIT Batang harus di bawah Rp 1 juta per m2. Lebih murah dari Vietnam. Oleh karena itu, kita akan upayakan itu,” katanya.

Menurutnya, upaya itu bisa diwujudkan dengan mudah, apabila anggaran pembangunan KIT Batang yang dikucurkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih besar dibanding anggaran pembangunan dari korporasi.

“Jika statmen yang disampaikan oleh Kepala BKPM itu benar, yakni nilai APBN yang masuk ke KIT Batang mencapai 70-80 persen dan 20-30 persen dari korporasi, maka dapat dipastikan harga sewa lahan kita bisa sangat bersaing dengan seluruh kawasan industri di Asia,” terangnya.

Ditambahkan Yul Ari, bahwa dimungkinkan para pelaku industri atau investor yang akan masuk ke KIT Batang memiliki jangka waktu sewa lahan mencapai 80 tahun kedepan.

“Adapun untuk besaran nilai proyek KIT Batang sendiri, sampai dengan saat ini masih dalam hitungan kita, jadi belum final. Karena di sini kan mau ada kontribusi dari APBN. Jadi salah satu untuk menekan harga jual kita itu adalah dengan memperbanyak APBN. Nah, APBN ini sampai sekarang kita belum tahu secara pasti berapa angkanya. Jadi kita belum tahu, berapa final cost untuk pembangunan kawasan ini,” bebernya. (fel)