FK KBIHU Berharap Design Manasik Centre Bisa Akurat dalam Penempatan Situs Haji

by
FK KBIHU menyerahkan peraga peta Armina dan buku kompilasi detail gambar terkait manasik haji pada PLT Kepala DPUPR. Istimewa

BATANG – Manasik Centre merupakan kebutuhan ummat yang harus terpenuhi, khususnya bagi jamaah calon haji Kabupaten Batang yang dari tahun ke tahun berjumlah seribuan orang.

Karena itulah, Forum Komunikasi Kelompok Bimbingan Haji dan Umroh FK KBIHU Kabupaten Batang menyambut gembira dan mengapresiasi niat Bupati Wihaji untuk mewujudkan pembangunan Islamic Center yang didalamnya terdapat Manasik Centre di tahun 2021 mendatang dengan anggaran tahap pertama Rp15 miliar dari keseluruhan rencana RP45 miliar.

“Kami dari FK KBIHU mengharapkan design Manasik Centre yang terdapat dalam komplek Islamic Centre betul-betul akurat dari sisi Layout atau penempatan situs-situs Haji. Seperti Ka’bah, Hijr Ismail, Maqam Ibrahim, Sofa Marwa, dan Jamarat serta
dimensi komposisi ukuran empat sisi dan tinggi Ka’bah harus terwakili secara proporsional dalam miniatur Ka’bah,” ungkap Ketua FK KBIHU Batang, KH Zainal Arifin saa menggelar audiensi dengan PLT Kepala Dinas PUPR setempat, Senin (20/7/2020).

Sekretaris FK KBIHU H Anta Masyhadi menambahkan, desain Manasik Centre yang dipaparkan Konsultan Perencana terdapat banyak layout yang harus direvisi. Antara lain yang mutlak harus dibetulkan adalah layout Ka’bah, Sofa-Marwa dan Jamarat, karena tidak sesuai dengan layout aslinya. Hal itu nantinya akan sangat menyulitkan pembimbing manasik memberi penjelasan dan gambaran kepada Calon Jamaah Haji.

“Rencana yang sudah diexpose tanggal 6 Juli menempatkan Manasik Centre -terutama Miniatur Ka’bah dan Area Thawaf hanya sebagai pelengkap saja, asal ada. Karena luasan area yang terlalu kecil, sehingga daya tampung untuk praktek Thawaf tidak ideal digunakan Manasik Akbar dengan peserta seribuan orang,” jelas pria yang juga Ketua Yayasan Pondok Modern Tazakka Bandar itu.

Sekretaris FK KBIHU, HM. Farid Asror menjelaskan, sejak rapat terakhir di Ruang Dahlia akhir Januari 2020, FK langsung menyiapkan bahan-bahan masukan untuk Manasik Centre. Bahkan sudah menghubungi Pengelola Islamic Centre Kramat Tunggak Jakarta, Perencana Komplek PM Tazakka Bandar dan Perencana Masjid Al-Fairuz Pekalongan sertaPerencana Manasik Centre Fatimah Zahra Semarang yang telah studi ke Tanah Suci untuk sharing pendapat dalam sebuah “Semiloka Songsong Islamic Centre”, tetapi pelaksanaannya terhalang lockdown covid-19.

“Saya telah menjelaskan secara detail kepada Kepala DPUPR dan pihak terkait halaman per halaman dari Buku Kompilasi, terutama mengenai pentingnya memperhatikan dan mempedomani layout, tata letak, posisi dan dimensi masing-masing situs peribadatan Haji. Termasuk detail Masjidi Nabawi di Madinah dengan Raoudlohnya.Mengingat banyak personil teknis (Dinas maupun Perencana) yang belum memahami kondisi Tanah Suci, maka saya mengusulkan harus ada studi banding minimal ke Manasik Centre Fatimah Zahra di Mijen Semarang,” beber Farid Asror.

Menanggapi masukan dan pandangan kritis dari FK KBIHU, PLT Kepala DPUPR Wahyu Budi Santoso menyambut baik dan menyatakan, bahwa design yang diexpose masih terbuka bagi masukan-masukan demi kesempurnaan fungsi dan manfaat.

“Kita akan segera menyempaikan laporan lewat Nota Dinas kepada Bupati Wihaji, termasuk usulan dan ijin untuk studi banding ke Fatimah Zahra,” tandas Wahyu Budi. (don)