Ratusan Warga Tuntut Pencopotan Dirut RSUD Kajen

by
Aksi RSUD Kajen Ganti Direktur
AKSI - Ratusan warga Kabupaten Pekalongan melakukan aksi di depan kantor setda setempat, pagi kemarin (8/1). Mereka menuntut agar Direktur RSUD Kajen segera dicopot dari jabatannya. MUHAMMAD HADIYAN
Aksi RSUD Kajen Ganti Direktur
AKSI – Ratusan warga Kabupaten Pekalongan melakukan aksi di depan kantor setda setempat, pagi kemarin (8/1). Mereka menuntut agar Direktur RSUD Kajen segera dicopot dari jabatannya.
MUHAMMAD HADIYAN

Dari Malpraktek, Sampai Isu Wahabi

Ratusan warga Kabupaten Pekalongan melakukan aksi di depan kantor setda setempat, pagi kemarin (8/1). Mereka menuntut Bupati Pekalongan Asip Kholbihi untuk mencopot Direktur RSUD Kajen dari jabatannya. Aksi yang semula dilatarbelakangi adanya dugaan malpraktek, merambat higga membawa-bawa isu paham wahabi.

Massa melakukan aksi dengan diawali longmarch dari Alun-alun Kajen, sambil membawa spandun tuntutan agar direktur RSUD Kajen segera diganti.

Mustofa Amin, selaku koordinator aksi, mengatakan bahwa pihaknya mendapatkan sejumlah informasi terkait kegagalan dalam melaksanakan tugas medis. Diantaranya kasus dugaan malpraktek bayi Serkhan yang hilang sekat hidungnya akibat resiko medis.

Tidak hanya kegagalan dalam tindakan medis, Mustofa juga menegaskan bahwa pihaknya mendapat informasi adanya paham wahabi yang mulai menyebar di lingkungan RSUD Kajen.

“Kami masyarakat Kabupaten Pekalongan yang peduli atas RSUD Kajen berharap kepada Bupati untuk mengganti Direktur RSUD Kajen yang bertanggungjawab atas kegagalan medis dan semua yang terjadi di RSUD Kajen,” jelasnya.

Mustofa juga menegaskan, pihaknya turun atas restu para ulama. Selain diminta memerangani paham Wahabi, pihaknya juga diminta ulama untuk menolak HTI yang dinilai telah melanggar UU Ormas.

“Pesan ulama-ulama Pekalongan, tolak dan berantas paham Wahabi dan HTI yang melanggar UU Ormas. Jangan sampai menyebar di Indonesia apalagi di Pekalongan, khususnya di RSUD Kajen. Makanya, penggantian Direktur RSUD Kajen merupakan harga mati untuk Bupati Pekalongan agar paham-paham yang menyesatkan dan kegagalan medis tak terjadi,” tandasnya.



Sementara itu, Bupati Pekalongan yang tak kunjung menemui para demonstran membuat massa semakin geram. Mereka mengancam akan melakukan aksi lebih besar dengan menutup jalur pantura dan melakukan aksi saat kedatangan Presiden Jokowi, hingga tuntutannya ditindaklanjuti oleh Bupati Pekalongan.

Bisri Angkat Bicara

Sore harinya, Ketua DPC PKB Kabupaten Pekalongan Bisri Romly melakukan klarifikasi kepada para pengunjuk rasa di Setda Kabupaten Pekalongan. Koordinator aksi, Mustofa dkk, diundang merapat ke Kantor DPC PKB Kabupaten Pekalongan

.

Warga yang mengatasnamakan dirinya Forum Masyarakat Peduli RSUD Kajen memenuhi undangan Bisri Romly yang juga anggota Komisi VIII DPR RI tersebut.
Dalam surat pemberitahuannya kepada Polres Pekalongan, Koordinator Lapangan Forum Masyarakat Peduli RSUD Kajen, Mustofa Amin menyatakan, sehubungan berlarutnya penanganan bayi Sirkhan yang mengalami cacat hidung yang diduga akibat kelalaian tim dokter RSUD Kajen, serta maraknya isu RSUD Kajen dikuasai oleh oknum dokter tertentu yang menganut dan mengembangkan faham wahabi di lingkungan rumah sakit.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPC PKB Kabupaten Pekalongan, Bisri Romly melakukan klarifikasi kepada pihak yang melakukan aksi mengenai apa subtansi dari aksi yang digelar itu. Usai melakukan klarifikasi kepada sejumlah pihak, diperoleh informasi bahwa ada salah satu pasien yang bersenggolan dengan dokter jaga, lalu sang dokter jaga tersebut menyatakan ini baju untuk salat, najis.

Hal itu dibenarkan oleh Azizah, warga yang datang ke DPC PKB dan mengaku sebagai saksi ketika peristiwa bersenggolan antara pasien dan dokter jaga itu terjadi. Diterangkan bahwa saat itu sang dokter jaga masih mengenakan baju.

Menurut Bisri Romly, terkait peristiwa ini terdapat ketidaklaziman terjadi dimana ada dokter jaga yang bersenggolan dengan pasien, lalu mengatakan najis. Untuk itu, lanjut dia, Bupati Pekalongan harus mengambil sikap.

Akantetapi, pengambilan sikap bukan karena tudingan wahabi, melainkan ada kejadian yang tidak lazim terjadi di RSUD Kajen. Yakni adanya dokter jaga bersenggolan dengan pasien kemudian mengatakan najis.

“Orang kok menajiskan orang, tentunya melenceng dari pemahaman kita,” ungkap dia.

Soal peristiwa senggolan itu, pihaknya selaku Ketua Partai PKB Kabupaten Pekalongan, selaku partai pengusung, akan menyampaikan permasalahan tersebut kepada bupati. Tentunya terkait dengan tindakan apa yang akan diambil oleh bupati, hal demikian menjadi hak perogatif Bupati Pekalongan.

Terpisah, Direktur RSUD Kajen Dwi Arie Gunawan ketika dikonfirmasi menyatakan, tidak komentar dulu. Beberapa imbauan untuk melakukan salat berjamaah tepat waktu, memang kata dia, kerap dilakukan ketika melaksanakan apel pagi. (yan)

Penulis: M. Hadiyan & Redaktur: Widodo Lukito