Istri Anies Soengkar Ketika Mendengar Vonis Kematian 6 Bulan Lagi: “Aku Belum Siap Ditinggalkan Kamu Mas.” (Part-2)

by

Istri Anies Soengkar, Ella Laela Basir yang membawa kabar hasil lab dari rumah sakit terlihat sembab menemui Anies Soengkar dan ragu-ragu untuk menyampaikan berita tersebut. Namun Anies Soengkar meyakinkan bahwa kabar apapun dia siap untuk mendengarkan dan menerimanya. Yang terucap dari bibir Ella adalah, “Aku belum siap ditinggalkan kamu mas?” Bagaimana kisah berikutnya? Ikuti laporan wartawan Radar Pekalongan, Ade Asep Syarifuddin berikut ini.

***

Dr. Achmad Hudojo, dokter RS Pondok Indah yang menangani saya, curiga gegara saya sudah diberi antibiotik terbaik dengan dosis tinggi dan terbaik, tapi batuk saya tidak sembuh. Hanya berkurang sedikit, tapi setelah itu muncul lagi dan tambah sering. Berat badan saya juga terus menurun drastis dalam kurun waktu dua bulan, dari 76 kilogram menjadi 55 kilogram. Bobot saya susut 21 kilogram! Kondisi fisik ini tentu tidak wajar dalam periskop medis.

Saya dianjurkan untuk menjalani biopsi di RS Pondok Indah, tetapi keluarga saya inginkan di biopsi di Singapore. Karena biopsi di Singapore memakan waktu yang lama akhirnya adik istri saya Ibrahim Ba’asir dokter bedah yang pratek di RS Medistra mengusulkan kalau dibiopsi di Medistra saja, agar dia bisa menyaksikan dan juga akan membesarkan hati saya dan terutama istri saya.

Baca Juga Berita Terkait:


Saya ikuti sarannya. Saya diperiksa dan dibiopsi secara menyeluruh, juga dianalisa. Singkat kata, hasil pemeriksaan keluar. Istri saya, Ella Laela Baasir, yang mengambil hasilnya, membawanya pada saya. Ketika istri saya datang membawa hasil itu, kentara sekali jika ia sedang berusaha keras menahan air matanya. Matanya sembab. Sepertinya kabar yang kurang baik, pikir saya.

BERSAMA ANAK – Anies bersama anak pertama Maya Yasmien di Chicago USA.


Dan, memang, dia membawa kabar yang ia sendiri sebenarnya merasa sangat berat menyampaikannya kepada saya. Tapi, pesan dokter sekaligus profesor yang memeriksa saya itu adalah amanah yang harus sampai pada saya. Agar saya tidak selalu bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri saya selama tiga tahun terakhir.


Saya tatap dia dengan pandangan lembut, untuk memastikan padanya bahwa saya siap menerima apa pun berita darinya. Setelah menghela napas, istri saya mulai berucap: “Kata dokter …” ia sempat menjeda sejenak, “… kanker paru-paru stadium empat…”

TAHAJUD – Setelah divonis meninggal 6 bulan lagi, Anies Soengkar setiap malam pukul 03.00 rutin shalat tahajud.

Kalimat itu singkat, tapi saya rasa sangat menyengat! Saya? Kena kanker paru-paru? Stadium empat? Separah itukah? Kenapa di stadium-stadium sebelumnya saya tidak merasakan gejalanya sama sekali, tahu-tahu sudah stadium empat?
Bagaimana caranya kanker itu sampai ke tubuh saya? Saya tidak pernah merokok sama sekali. Saya bukan perokok aktif.


Saya tidak pernah tertarik merokok. Bahkan, ketika muda, dari 22 teman yang kerap
runtang-runtung dengan saya ke manamana, saya satu-satunya yang bukan perokok. Bukankah selama ini rokok yang lazim jadi tertuduh sebagai penyebab kanker paru-paru?


Berbagai pertanyaan bertengkar dalam benak saya. Saya terhimpit rasa tak percaya, bingung, nyaris putus asa, dan …. entahlah. Begitu riuh kecamuk dalam dada dan kepala saya.


Tapi, saya berusaha untuk tenang. Istri saya sedang kalut. Tidak pas rasanya kalau saya juga kalut. Dalam situasi seperti ini, hal pertama yang saya lakukan adalah ……. diam … Saya biarkan keheningan menghanyutkan jiwa saya. Saya melayang di ruang hampa …

Sejenak saya merasa seluruh darah saya seakan luruh dari tubuh saya, merembes keluar dari telapak kaki saya. Saya merasakan muka saya sangat pucat sekali. Saya hampir pingsan.

Tetapi, ketika saya mendengar isak tangis istri di samping saya, tiba-tiba saya terhentak. “Aku belum siap kamu tinggalkan…,:” kata istri saya lagi, lirih. Saya langsung tergugah.

Dan saya langsung merasa ada yang membangunkan saya dari mimpi yang sangat buruk. Kesadaran saya berangsur-angsur kembali. Saya rasakan darah saya kembali mengalir.

Pelan-pelan saya mulai bisa berpikir kembali; bagaimana caranya agar situasi ini tidak semakin keruh. Setelah beberapa jenak kami khusyuk dalam keheningan, saya tatap istri saya. Saya, dengan sisa-sisa tenaga yang saya paksakan ada, kembali bertanya: “Lalu, apa lagi kata dokter?”

Nada bicara saya paksakan tegar. Saya sudah tidak tahu harus ngomong apa lagi. Apa lagi yang bisa Anda lakukan ketika menerima kabar yang sama sekali tak pernah ingin Anda dengar tentang diri Anda, selain ingin tahu tentang kemungkinan-kemungkinan setelah itu?

Ketika Anda sedang berada dalam kondisi mental yang sedang runtuh, apalagi yang bisa Anda lakukan selain berusaha mencari-cari harapan, sekecil apa pun, untuk bisa mengangkat kembali mental itu?

“Diprediksi tinggal empat sampai enam bulan lagi…”
Deg!

Setelah menyampaikan itu, pecahlah tangis istri saya. Pecah juga perasaan saya….… sependek itukah sisa usia saya? Secepat itukah saya harus menggalkan keluarga saya?…

Saya biarkan diri saya kembali larut dalam keheningan. Saya berusaha mencerna; pertanda apakah ini? Apakah sebenarnya rencana baik Tuhan terhadap saya?


Saya menikmati diam. Saya menikmati hening. Saya biarkan istri saya menyelesaikan tangisnya. Saya mencoba berdamai dengan pikiran dan diri saya sendiri. Di depan istri, sebisa mungkin saya menghadirkan wajah tenang, tanpa ekspresi, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah vonis itu tidak pernah ada. Saya tidak mau istri saya yang sedang merasakan kecamuk menjadi semakin terpuruk.


Saya adalah pria. Saya adalah kepala keluarga. Maka, sudah seharusnya saya mengupayakan ketenangan untuk seluruh keluarga saya, terutama istri saya di saat-saat seperti itu.


Istri saya berhak untuk merasakan ketenangan di tengah situasi yang membuatnya kalut itu. Ia adalah wanita yang sangat hebat. Ia sangat tangguh. Selama 50 tahun ia menjalankan tugas sebagai istri dan ibu anak-anak saya, jarang sekali saya melihatnya putus asa.


Istri saya mengerjakan banyak hal untuk keluarga kami: Menyokong saya untuk mencukupi kebutuhan keluarga sejak kami muda, melahirkan, merawat, dan mendidik ketiga anak saya—Maya Yasmien (lahir 13 September 1971); Ruby Aulia (Lahir 11 Oktober 1972); dan Revy Ma’arief (Lahir 10 Juli 1978)—sehingga mereka semua dewasa dan membina rumah tangga masing-masing.


Kelebat-kelebat kehebatan dan dedikasi sosok istri saya untuk keluarga termasuk salah satu yang “membebani” saya ketika mendapati vonis itu. Apakah saya harus meninggalkannya sendirian?

Memang, kita tidak bisa menawar kapan kita mati. Tapi, apakah saya harus meninggalkannya ketika masih ada beberapa hal dalam keluarga kami yang belum bisa diselesaikan sepenuhnya? Dan bila saya semakin melemah, saya tentu akan sangat tergantung pada orang-orang di sekitar saya.

Itu tentu bakalan merepotkan mereka semua.
Saya tidak mau itu terjadi …

Ya Allah … Saya tidak mau sisa usia saya habis hanya untuk
merepotkan orang lain …

Saya juga teringat beberapa tanggung jawab yang belum sempat saya selesaikan ketika vonis medis itu jatuh. Saya juga harus bertanggung jawab mengawal perusahaan tekstil di Pekalongan yang pernah ikut saya benahi, yang saat itu masih memerlukan sentuhan saya sebagai konsultan. Saya masih teringat sekitar 100 tukang becak di Pekalongan yang masih menunggu jatah makan siang dari saya, yang rutin saya bagikan setiap hari Jumat. Saya juga punya sebuah cita-cita yang baru coba saya mulai: Menulis buku! (Bersambung)