Anies Soengkar Penderita Kanker Paru-Paru Stadium 4, Divonis Meninggal 6 Bulan Lagi, Masih Sehat Sampai Sekarang (Part-1)

by

Saya harus membalik pikiran-pikiran
dan perasaan negatif
yang sangat menyesaki diri saya.
Saya harus memutarbalikkannya
secara radikal menjadi pikiran positif.

Demikian yang terucap oleh Anies Soengkar, profesional dan konsultan di Pekalongan ketika mengetahui dirinya mengidap kanker paru-paru stadium 4. Kaget bercampur khawatir menggelayuti pikiran dan perasaannya. Bagaimana dia sampai melewati masa-masa kritis tersebut? Berikut laporan Ade Asep Syarifuddin wartawan Radar Pekalongan.

Saya tidak pernah takut pada kematian. Maut pasti mendatangi semua manusia, termasuk saya. Sebagai seorang Muslim, ya, saya wajib mempercayai kematian. Ia adalah takdir yang tak dapat ditolak oleh makhluk hidup mana pun— terutama manusia. Bukankah sebelum ruh kita diembuskan ke janin dalam perut ibu kita, Allah sudah menetapkan kematian kita—bersama jodoh dan rezeki?

ANIES SOENGKAR – Anies Soengkar penderita kanker paru-paru stadium 4 bertutur kepada Radar Pekalongan dari awal hingga kesembuhannya. Video di atas adalah bagian pertama dari 3 video.

Namun, ketika medis memvonis saya bahwa saya sedang berada di tubir usia saya, ketika bilangan umur saya menginjak 73 tahun, saya sempat “galau” juga. Tiba-tiba saja saya merasa belum siap. Tiba-tiba saja saya merasa ada hal-hal yang harus saya selesaikan dulu sebelum menghadap-Nya. Mendadak saya merasa perlu waktu yang lebih lama lagi untuk mempersiapkan diri. Jujur saya mengakuinya.

Baca berita terkait:

Di antara kegalauan itu pun tumbuh harapan dan permohonan saya: Saya berharap kematian saya “datang di waktu yang benar-benar tepat”. Setidaknya “tepat” menurut saya—tentunya atas seizin Allah. Saya pun punya gambaran— atau, katakanlah, harapan—di mana saya bakal diizinkan-Nya hidup hingga usia 93 tahun! Ya, 93 tahun! Itu artinya sekitar 15 tahun lagi sejak buku ini saya tulis di usia 78 tahun. Saya mulai menulis buku ini lima tahun setelah saya “divonis mati” oleh dokter, yang nyatanya vonis itu batal jatuh pada saya.