Dua Inovasi Pemkab Batang Masuk Top 99 KIPP

by
Bupati Batang saat interview dan presentasi secara daring (virtual) di hadapan dewan juri dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (Kemenpan-RB RI). Istimewa

BATANG – Dua inovasi dari Pemerintah Kabupaten Batang masuk Top 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) Tahun 2020. Kompetiai yang diinisiasi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia (Kemenpan-RB RI), diikuti Badan Usaha, Pemerintah Provinsi, Kabupaten dan Kota se-Indonesia.

“Alhamdulillah, inovasi Pemkab yakni Strategi Bidik Normal Jurus Cofit, dari Strategi Bidang Pendidikan Non Formal Menuju Wirausaha Berorientasi Profit yang digagas oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) masuk Top 99 KIPP 2020,” ujar Bupati Batang, Wihaji usai uji kelayakan dan peniIaian melalui interview dan presentasi yang dilakukan secara daring (virtual) di Ruang Abirawa Kantor Bupati Batang, Rabu (8/7/2020).

Bupati Wihaji menjelaskan, kedua inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab persoalan di masyarakat berkenaan dengan kemandirian, yang hampir semua daerah mengalami. Sehingga ada manfaat dari program yang dilahirkan untuk masyarakat.

“Kunikan dari inovasi strategi ini yaitu pelatihan yang dilakukan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP), wajib menghadirkan pemodal dan market yang jelas. Selain itu juga harus bekerjasama dengan berbagai mitra salah, satunya Google School Indonesia,” jelas Bupati Wihaji.

Lebih lanjut dijelaskan, permasalahan di era sekarang LPK hanya bersifat formal tidak adanya tindak lanjut dan pendampingan. Karena itulah, inovasi tentang jurus cofit, tidak hanya sekedar pelatihan tetapi juga ada tindak lanjutnya. Contohnya yaitu pelatihan pembuatan kompos daun kakao yang sudah diekspor hingga ke Jepang,” beber Wihaji.

Sementara itu, Deputi Bidang Pelayanan Publik Kemenpan-RB RI, Diah Natalisa menyampaikan, adanya kebijakan KIPP ini dalam rangka mendorong instansi untuk berkompetisi dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik.

“Penilaian KIPP terdiri dari latar belakang atau analisis masalah, keunikan, implementasi dan keunikan, dampak sebelum dan sesudah, keberlanjutan, dan potensi direplikasi oleh daerah lain,” lanjut Wihaji.

Sedangkan, Kasi Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal Disdikbud Kabupaten Batang, Rini Diana Anggriani mengatakan, presentasi dan wawancara KIPP Tahun 2020 secara daring ini sangat luar biasa. Artinya walaupun di tengah pandemi seperti sekarang, tetapi tetap berjalan dengan baik.

“Harapannya semoga kita bisa masuk dalam Top 45 KIPP Tahun 2020,” tandas Diana. (don)