Perajin Tahu Tempe Keluhkan Penutupan Pasar

by

KENDAL – Penutupan pasar tradisional secara mendadak dikeluhkan oleh perajin tahu tempe yang tergabung dalam Primer Koperasi Produsen Tempe dan Tahu Indonesia (Primkopti) Harum Kendal. Sebab mereka tak bisa menjual hasil produksinya. Kondisi tersebut menyebabkan produsen kedelai mengalami kerugian yang tidak sedikit.

Pemkab Kendal hingga kemarin menutup tiga pasar tradisional yakni Pasar Gladak, Pasar Pagi Kaliwungu, dan Pasar Kangkung untuk mencegah penyebaran covid-19. Penutupan selama tiga hari terpaksa di laksanakan, karena terdapat pedagang yang positif korona.

Ketua Primkopti Harum Kendal, Rifai, mengatakan pihaknya mendukung upaya pemerintah dalam mencegah penyebaran virus korona. Namun, penutupan pasar tradisional yang dilakukan secara tiba-tiba membuat pelaku UMKM mengalami dua kerugian, yakni tidak bisa menghentikan produksinya dan tidak bisa menjual produknya.

“Setidaknya ada sosialisasi dulu ke pedagang dengan adanya penutupan pasar. Paling tidak lima – tujuh hari, sehingga kami bisa menghentikan produksi untuk sementara. Saya juga telah melayangkan surat permohonan kepada Dinas Perdagangan Kendal,” katanya, Selasa (23/6).

Diungkapkan, sejak terjadinya pandemi wabah korona, penjualan kedelai mengalami penurunan antara 20 persen – 25 persen dibanding sebelum pandemi. Biasanya rata-rata penjualan kedelai mencapai 400 ton/bulan, tapi sekarang mengalami penurunan penjualan hingga 25 persen. Kondisi ini semakin parah dengan adanya penutupan pasar tradisional.