Nilai Lelang Ikan di TPI Klidang Lor 2 Turun Miliaran Rupiah, Ini Penyebabnya

by
Kondisi TPI Klidang Lor 2 ini dinilai sudah tidak representatif lagi. (Istimewa)

BATANG – Nilai lelang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Klidang Lor 2, mengalami penurunan hingga miliaran rupiah. Kondisi tersebut diakibatkan sulitnga mendapat izin berlayar bagi kapal pendatang.

Disisi lain, sarana dan prasarana yang ada di TPI tersebut juga sudah ketinggalan dari daerah lain.

“Pada saat masih normal dulu, nilai lelang di TPI II ini dalam sebulan tidak beda jauh dengan TPI I. Jika TPI I transaksinya Rp7 miliar, maka TPI II bisa Rp6 milyar. Namun sekarang hanya sekitar Rp 2 miliar saja,” ungkap Ketua Himpunan Nelayan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Batang Teguh Tarmujo, kepada awak media, kemarin.

Teguh menjelaskan, turunnya nilai lelang tersebut disebabkan kapal nelayan pendatang yang menjual ikan di TPI II ini merasa kesulitan mendapat ijin kembali berlayar untuk ikan. Padahal harus kembali berlayar.

“Sebelum kembali berlayar, ada 20 surat kapal termasuk perizinan yang harus dikantongi, dan jika kurang satu atau dua, maka tidak diizinkan berlayar oleh Kantor Pelayanan Terpadu Satu Atap (PTSP). Seharusnya hal itu bisa dimaklumi,” jelas Teguh Tarmujo.

Karena itulah, pihaknya meminta Syahbandar Perikanan Pantai Klidang Lor Batang melonggarkan perijinan kapal nelayan pendatang. Jika pihak pejabat Syahbandar perikanan terlalu kenceng dan kaku, maka kapal nelayan dari Rembang, Demak, Lamongan, Tuban dan lainnya akan enggan ke Batang.

“Jika perizinan di Batang kaku dan sulit, maka kapal dari luar daerah akan memilih membongkar dan menjual hasil tangkapannya di TPI Pekalongan,” kata Teguh.

Teguh Tarmujo berharap permaslahan ini dapat disikapi dengan bijak, karena mereka butuh berlayar dan masyarakat Batang juga diuntungkan.

Keluhan lain juga di sampaikan Ketua Pengurus Kapal Pendatang, Budi Syahroni yang mengeluhkan sarana prasaran di TPI II sudah jauh ketinggalan dari daerah lain.

“Kita sudah butuh TPI II baru yang lebih luas, karena dengan daerah lain kita ketinggalan jauh,” katanya.

Pihaknya menyayangkan Pemda yang kurang perhatian terhadap TPI II. Pasalnya, meskipun setiap tahunya kapal yang bongkar muat bertambah, namun tidak diimbangi dengan penambaham sarprasnya.

“Jika Pemda bisa membangun TPI baru, pernertiban alur sungai yang banyak galangan kapal, tembat labuh kapal diperluas, maka hal itu bisa menjadi daya tarik bagi kapal pendatang. Hal itu juga tentunya akan membuat TPI Batang bisa bersaing dengan daerah lain, dan imbasnya tentu saja Pendapatan Asil Daerah ( PAD) akan ikut naik,” tandas Budi Syahroni. (don)