Ada Berbagai Faktor, Utamanya Karena Merusak Lingkungan

by
Aksi Unjuk Rasa Galian C
MENGAMANKAN - Sejumlah aparat polisi dari Polres Pekalongan mengamankan aksi unjuk rasa warga di lokasi galian C di Desa Pododadi, Kecamatan Karanganyar. TRIYONO
Aksi Unjuk Rasa Galian C
MENGAMANKAN – Sejumlah aparat polisi dari Polres Pekalongan mengamankan aksi unjuk rasa warga di lokasi galian C di Desa Pododadi, Kecamatan Karanganyar.
TRIYONO

Melihat Maraknya Warga Menolak Penambangan Galian C

Beberapa minggu yang lalu, di berbagai lokasi penambangan galian C terjadi demo penolakan. Kenapa? Triyono, Kajen

Berpotensi merusak lingkungan. Hal itulah yang menjadi kekhawatiran sejumah warga sehingga melakukan demo untuk melakukan penolakan pertabangan. Aksi unjuk rasa tersebut di antaranya dilakukan oleh masyarakat Desa Pedawang dan Desa Kutosari, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan.

Kabid PPKL, Kantor Lingkungan Hidup (KLH) dan Perkim Kabupaten Pekalongan, Yarochim, membenarkan telah terjadi aksi unjuk rasa di Desa Pedawang dan Kutosari yang menuntut agar usaha galian C di Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, dan di Desa Pododadi, Kecamatan Karanganyar ditutup. Pasalnya, dampak kedua usaha galian C itu dinilai warga telah merusak lingkungan di kedua desa tersebut.

“Itu yang menangani langsung PSDA provinsi sama ESDM Serayu. Untuk yang di Desa Rogoselo dihentikan sementara karena ada semacam sengketa. Itu kan wilayah izinnya dari PSDA di sungai di Desa Rogoselo, tapi sungainya ada yang di Desa Pedawang. Warga Pedawang yang lahannya di situ tidak bisa digarap, tidak menghasilkan apa-apa itu inisiatif dijual. Lah dijual ke siapa, kita masih mencari. Belum tahu kita,” terang Yarokhim.

Menurutnya, material batu di lahan milik warga Desa Pedawang tersebut diambil oleh orang yang membeli tersebut, sehingga menimbulkan masalah. Selain itu, usaha penambangan tersebut juga dinilai telah merusak lingkungan.

“Untuk diberhentikan sementara sampai kapan saya belum tahu, karena yang menerbitkan suratnya itu ESDM provinsi. Kemarin bentuknya pernyataan bersama, yakni dihentikan sementara hingga ada kejelasan yang melanggar itu siapa, yang menyimpang siapa. Itu ada tim yang akan turun,” ungkap dia.

Adapun aksi unjuk rasa serupa juga dilakukan oleh masyarakat Desa Kutosari atas usaha galian batu di Desa Pododadi, Kecamatan Karanganyar.

“Bentuknya sama galian C yang ada di sungai, namun pengusahanya berbeda. Wilayah usahanya di Pododadi tapi warga Kutosari yang terkena dampak dari usaha tersebut,” katanya.

Ditambahkan bahwa usaha galian C saat ini kewenangannya ada di provinsi. Menurutnya, KLH hanya mengawal UKP UPL, yakni pernyataan pengusaha akan menjaga lingkungan, atau tidak merusak lingkungan dan mereklamasi lahannya. KLH juga tidak berdiri sendiri, namun dengan Bappeda, Satpol PP, DPU, Badan Penanaman Modal dan Perizinan.

“Untuk aksi di Desa Pododadi juga telah dilaporkan ke provinsi. Kemarin dikaji memang ada penyelewengan juga dari pengusaha. Semestinya tidak boleh membuat jalan di bantaran sungainya Masyarakat memang sudah ramai tentang imbas usaha galian C ini, karena dinilai warga telah merusak lingkungan,” tukasnya. (yon)

Penulis: Triyono & Redaktur: Widodo Lukito