Ajukan Bantuan ke BNPB

by
Tanggul Terkikis
TERKIKIS - Tanggul di sepanjang Sungai Meduri sampai Sungai Bremi Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, terkikis akibat abrasi laut. MUHAMMAD HADIYAN
Tanggul Terkikis
TERKIKIS – Tanggul di sepanjang Sungai Meduri sampai Sungai Bremi Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, terkikis akibat abrasi laut.
MUHAMMAD HADIYAN

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan telah mengajukan bantuan dukungan dana siap pakai (DSP) ke pusat senilai Rp250juta untuk mengatasi kerusakan akibat rob di Jeruksari.

Bantuan dana tersebut rencananya untuk perbaikan dua tanggul muara sungai Bremi Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, yang terkikis akibat abrasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan mengatakan, akibat rob besar 1 Desember tahun lalu, tanggul sepanjang 85 meter lebih di pintu air Setunggaknongko dan di sebelah utara Desa Jeruksari mengalami kerusakan. Badan tanggul terkikis hingga selebar 3 sampai 4 meter.

Berdasarkan informasi dari masyarakat, keberadaan tanggul tersebut cukup vital sebagai akses ekonomi masyarakat setempat, mulai dari akses produksi hasil tambak, hingga digunakan sebagai jalur penghubung antar Kabupaten dan Kota Pekalongan.

“Kita sudah mengusulkan dukungan dana ke BNPB untuk penanganan terhadap kerusakan tanggul tersebut. Yang kami usulkan sekitar Rp250juta,” ujar Bambang, kemarin.

Ia berharap, bantuan dana siap pakai itu dapat terealisasi bulan ini. “Pelaksanaannya kira-kira tahun 2018 ini. Mudah-mudahan Januari sudah bisa dilaksanakan untuk perbaikan tanggul,” tandasnya.

Sementara Kepala Desa Jeruksari, Kuswanto menerangkan, tanggul tersebut sudah mulai terkikis sejak terjadinya gelombang besar pada 1 Desember lalu. “Akibat gelombang laut, tanggul jadi rusak dan terkikis,” ujar Kuswanto, kemarin.

Ia berharap, pemerintah dapat segera melakukan perbaikan jalan tersebut. Pasalnya, apabila tidak diperbaiki segera, maka pengikisan akan semakin meluas. Tanggul yang berada di area Pintu Air Setunggaknongko ini akan memperparah rob apabila air laut naik.

“Kalau rob terjadi, air akan semakin cepat sampai ke permukiman akibat terkikisnya tanggul tersebut,” ujar Kuswanto.

Di sisi lain, lanjut dia, akses tanggul tersebut merupakan akses ekonomi bagi warga setempat. Tidak hanya akses penghubung ke Kabupaten dengan Kota Pekalongan, namun juga jalur menuju pantai, serta akses bagi ekonomi pertambakan.

“Hasil tambak maupun aktivitas pertambakan dilakukan melalui akses tersebut. Kalau aksesnya rusak, perekonomian warga dapat terganggu,” ungkapnya.

Sebelumnya, dikatakan, jalur tersebut dapat dilalui kendaraan roda empat. Namun sekarang, hanya bisa untuk jalan kaki. Selain tanggul di Pintu Air Setunggaknongko, kerusakan tanggul juga terjadi di wilayah RW 7 Desa Jeruksari, Tirto.

“Kalau disini, sangat berpengaruh pula dengan dampak rob,” kata dia.

Dituturkan Kuswanto, saat ini rob mulai turun. Namun, pihaknya dan warga khawatir apabila terjadi rob dengan kondisi tanggul yang terkikis cukup luas itu. Terlebih fenomena supermoon yang dikabarkan akan terjadi pada bulan ini.

“Ditambah lagi sekarang masih musim angin barat mas. Biasanya air laut naik, dan gampang rob,” tandasnya.

Sementara, sampai saat ini status tanggap darurat bencana banjir di wilayah Kecamatan Tirto masih berlangsung. Pemerintah Kabupaten Pekalongan menetapkan status tersebut selama 62 hari. Terhitung sejak 1 Desember 2017 hingga 31 Januari 2018 untuk wilayah pesisir di Kota Santri tersebut. (yan)

Penulis: M. Hadiyan & Redaktur: Widodo Lukito