Pengaturan Jarak di Pasar Sulit Dilakukan

by

KOTA – Penerapan ‘New Normal’ di Kota Pekalongan mulai menyentuh sejumlah lokasi kegiatan masyarakat, salah satunya di pasar rakyat. Namun penataan pasar dengan pengaturan jarak sulit dilakukan di pasar-pasar yang ada di Kota Pekalongan. Dari sembilan pasar hanya dua pasar yang dapat dilakukan pengaturan jarak yakni di Pasar Podosugih dan Pasar Kraton.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UKM (Dindagkop UKM) Bambang Nurdiyatman mengatakan, situasi dan kondisi pasar yang ada di Kota Pekalongan berbeda-beda. Ada pasar-pasar yang penataannya sudah ditata sedemikian rupa untuk batas jarak antara penjual dan pembeli. Namun lebih banyak pasar yang sulit menerapkan penataan seperti itu.

“Sebagian pasar seperti di Pasar Darurat Banjarsari, Pasar Sorogenen, Pasar Banyurip, Pasar Grogolan agak susah mengatur jaraknya, jika diberi jarakpun tidak ada lahan mau ditempatkan dimana. Jadi kami fokusnya pada pemakaian cuci tangan dan memakai masker, pemasangan spanduk informasi edukasi pencegahan Covid-19 yang terus kami gencarkan kepada pedagang dan pembeli,” jelasnya.

Dia menyatakan, pasar menjadi salah satu tempat yang paling rentan menjadi sumber penularan virus dan bakteri. Kebutuhan akan aktivitas jual beli membuat pasar selalu ramai dikunjungi masyarakat. Sehingga penerapan protokol kesehatan menjadi hal wajib yang harus diterapkan.

“Sebenarnya untuk penyelenggaraan kegiatan dimana saja, termasuk salah satunya di pasar tetap harus mengacu pada protokol kesehatan yang selama ini dilaksanakan. Artinya, harus ada tempat cuci tangan dan sabun yang disediakan diseluruh pasar, wajib memakai masker baik pedagang maupun pembeli, penyemprotan disinfektan lapak pedagang, pengecekan suhu tubuh menggunakan thermogun, menjaga jarak aman, dan belum memakai masker kami bagikan masker,” tambahnya.