Covid-19 Bikin Elektabilitas Anies dan Prabowo Nyungsep, Ganjar dan Ridwan Kamil Naik

by
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam konferensi pers perpanjangan PSBB. (Pojoksatu)

Elektabilitas Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan nyungsep.

Hal itu diketahui berdasarkan hasil survei terbaru yang dirilis Indikator Politik Indonesia mengenai dampak politik dan ekonomi wabah Covid-19.

Direktur Eksekutif Indikator Burhanuddin Muhtadi menyampaikan, salah satu dampaknya yakni terhadap elektabilitas pejabat daerah.

“Covid-19 punya dampak mengubah peta elektoral karena bisa menjadi pertarungan kepala daerah untuk menunjukkan taringnya,” ujarnya dalam rilis secara virtual, Minggu (7/6/2020).

“Akibatnya, feasibility capres yang tidak berasal dari kepala daerah jadi berkurang,” sambungnya.

Burhanudin menjelaskan, dampak elektabilitas tersebut terkait pemilu 2024.

Sebelum pandemi, elektabilitas Prabowo Subianto menjadi yang teratas.

Kini, tingkat keterpilihan Ketua Umum Partai Gerindra itu berkurang menjadi 14 persen.

Kendati demikian, Prabowo masih menjadi yang teratas dalam urutan jika pilpres digelar hari ini.

Hal yang sama juga dialami Anies Baswedan.

“Anies Baswedan di Februari 12 persen kemudian jadi 10 persen,” ungkapnya.

Sebaliknya, kenaikan elektabilitas justru di dapat dua kepala daerah.

Yakni Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Dalam survei tersebut, elektabilitas Ganjar naik lebih dari dua poin.

“Dari 9,1 persen pada Februari 2020 menjadi 11,8 persen pada Mei 2020,” bebernya.

Sedangkan elektabilitas Ridwan Kamil mengalami kenaikan cukup tajam.

Pada Februari 2020 atau sebelum pandemi, elektabilitas pria yang akrab disapa Kang Emil itu hanya 3,8 persen.

Setelah menangani penyebaran Covid-19, elektabilitasnya naik menjadi 7,7 persen.

Secara umum, lima tokoh dengan elektabilitas tertinggi jika pilpres digelar hari ini yaitu Prabowo, Ganjar, Anies, Ridwan Kamil, dan Sandi Uno.

“Prabowo, Ganjar, Anies perbedaan elektabilitasnya tidak signifikan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, survei ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara melalui telepon dengan simpel random sampling.

Ada 1.200 responden dari seluruh Indonesia yang dipilih secara acak dari kumpulan sampel acak.

Sementara margin of error kurang lebih 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (jpg/ruh/pojoksatu)