Update Kasus Corona 22 Mei : Pasien Positif dan Sembuh Menurun, yang Meninggal Meningkat

by
Pasien sembuh pulang dari rumah sakit. (Antara)

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 Achmad Yurianto mengatakan hingga Jumat (22/5/2020) ada penambahan 219 orang yang sembuh sehingga 5.057 pasien COVID-19 dinyatakan sembuh dari 20.796 orang yang terkonfirmasi positif.

“Sedangkan pasien yang meninggal sebanyak 1.326 orang. Untuk jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) yang masih berjalan sebanyak 11.028 orang dan orang dalam pemantauan (ODP) yang masih berjalan sebanyak 47.150 orang,” kata Yurianto dalam jumpa pers di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta, Jumat.

Jika dibandingkan dengan sehari sebelumnya, jumlah pasien sembuh mengalami penurunan dari 263 orang menjadi 219 pasien yang dinyatakan sembuh.



Sedangkan untuk kasus positif mengalalamj penurunan bila dibandingkan sehari sebelumnya, yaitu pada hari ini ada 634 orang dibanding Kamis (21/5/2020) ada 973 kasus positif baru. Disisi lain, untuk pasien meninggal hari ini ada 48 orang, atau meningkat dibandingkan sehari sebelumnya 38 orang.

Yurianto mengatakan seluruh provinsi di Indonesia sudah terpapar COVID-19, sedangkan kabupaten dan kota yang terdampak sebanyak 395 atau naik sebanyak tiga kabupaten dan kota dari hari sebelumnya.

Secara keseluruhan, pemerintah telah melakukan pemeriksaan usapan rongga mulut dengan berbagai jenis spesimen mencapai 229.334 spesimen. Hasil uji spesimen tersebut dengan menggunakan metode Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) dan Tes Cepat Molekuler (TCM).

Secara umum, saat ini telah dimanfaatkan sebanyak 69 laboratorium RT-PCR dan 35 laboratorium TCM yang aktif di Tanah Air. Khusus untuk hari ini, dilakukan pemeriksaan spesimen dan validasi data untuk kepentingan tracing sebanyak 9.359 spesimen.

Terkait data perkembangan kasus COVID-19 tersebut, ia mengatakan hal itu menggambarkan bahwa penularan masih terjadi, bahwa di luar masih ada sumber penularannya dan di luar masih ada kelompok masyarakat yang rentan tertular serta memungkinkan terjadinya penularan disebabkan tidak mentaati protokol kesehatan yang ada.

“Lebih dari ratusan ribu spesimen diperiksa, puluhan ribu orang kemudian terinfeksi disebabkan dinamika pergerakan manusia karena pergerakan aktivitas sosialnya,” ujar dia. (don/antara)