Home Radar Kendal Dibulan Ramadan, Dua Remaja Kakak-Adik Jadi Mualaf Masuk Islam

Dibulan Ramadan, Dua Remaja Kakak-Adik Jadi Mualaf Masuk Islam

by Admin 3

*Prosesi Ikrar Pengucapan Dua Kalimat Syahadat Dilakukan di Masjid At Taqwa

JADI MUALAF – Dua remaja, kakak-adik Aditia Kurniawan (25) dan Danan Arya Setiaji (16) warga RT 01, RW 04 Desa Ngareanak, jadi mualaf masuk agama Islam.

Bulan Ramadan tahun ini menjadi momentum penting bagi dua remaja non muslim, kakak-beradik warga Desa Ngareanak, Kecamatan Singorojo. Karena di bulan nan suci ini keduanya mendapatkan hidayah dari Allah SWT, menjadi mualaf dengan melepaskan agamanya dan masuk agama Islam.

REMAJA kakak beradik ini adalah bernama Aditia Kurniawan (25) dan Danan Arya Setiaji (16) warga RT 01, RW 04 Desa Ngareanak, Kecamatan Singorojo. Dengan suka rela keduanya melepas agama sebelumnya yang dianut dan diyakininya dan berpindah ke agama Islam. Prosesi ke-Islaman keduanya berlangsung khidmat di Masjid At Taqwa Desa Ngareanak, belum lama ini. Dihadapan Ketua PCM Singorojo, keduanya berikrar mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Peristiwa sakral itu disaksikan oleh anggota jamaah masjid, Sekretaris Desa Ngareanak dan ketua RW desa setempat.

Ketua PCM Singorojo, Rubiyadi bersyukur bahwa kedua remaja tersebut telah mendapat hidayah dari Allah SWT, yaitu memeluk agama Islam tanpa paksaan. Kedua remaja ini masuk Islam dengan cara berbeda.

Sang kakak, Aditia sering mendapat kiriman buku-buku tentang Islam dari saudaranya yang ada di Hongkong, kemudian dibaca dan difahaminya. Sedangkan adiknya, Danan belajar Islam dari pergaulannya selama ini dengan teman-temannya yang beragama Islam.

“Awalnya kedua orang tua mereka muslim, tetapi suatu ketika ibunya pindah agama yang membuat ayahnya kecewa, lantas meninggalkan rumah dan belum pulang sampai sekarang,” katanya, dibenarkan dua saudara satu kandung kakak-beradik tersebut.

Lebih lanjut diceritakan, dengan kepergian ayahnya dari rumah itu, lantas dimanfaatkan oleh ibunya untuk membesarkan kedua anaknya dalam lingkungan agama yang dianutnya. Namun ketika keduanya menginjak remaja ibunya meninggal dunia. Paska sepeninggal ibundanya, mereka mulai gelisah dengan kebutuhan ruhaniahnya.

Sedangkan untuk pemenuhan hidupnya mereka mendapatkan bantuan dari saudaranya yang bekerja sebagai TKI di Hongkong. “Haus kebutuhan ruhaniah, mereka mulai mempelajari Islam lewat buku-buku, dan bergaul dengan teman yang muslim,” ungkapnya.

Rubiyadi berharap dengan kini menjadi mualaf, maka kedua remaja kakak beradik ini dapat segera mendapat pendampingan dan bimbingan dalam bidang keagamaan oleh ummat Islam, khususnya warga Muhammadiyah dan kebutuhan hidupnya dapat dibantu.

“Kami melakukan pendampingan dan bimbingan di bidang aqidah, ibadah, dan kebutuhan hidup mereka. Untuk kebutuhan ekonomi, kami berharap Lazismu bisa membantunya sampai kedua saudara kita itu mandiri,” ujarnya.

Sekretaris Desa Ngareanak, Udiawan mengatakan, pada prinsipnya memilih agama adalah hak setiap warga Negara Republik Indonesia. “Setiap warga negara berhak dan bebas memilih agama yang dianut dan diyakininya,” katanya.

Menurutnya, setiap orang bebas memeluk agama dan beribadat menurut agamanya,

“Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya,” tukasnya. Terkait dengan masuknya kedua remaja tersebut dalam agama Islam dinilai tidak menyalahi aturan perundang-undangan. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing. “Begitu juga untuk beribadat menurut agamanya tersebut,” tandasnya. (*)

Related Articles