Duh, Volume Sampah RT Meningkat Selama Ramadan

by

*Naik 15% dari Hari Normal

MENUMPUK – Kondisi salah satu TPS di daerah Warungasem, sampah terlihat menumpuk.

BATANG – Aktivitas konsumsi masyarakat selama bulan ramadan cenderung meningkat. Akibatnya, volume sampah rumah tangga (RT) yang dibuang selama puasa ini juga mengalami kenaikan hingga 200 meter kubik di wilayah Kota Batang.

Kondisi itu juga dibenarkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang. Disebutkan, volume sampah di bulan ramadan bahkan meningkat 10-15 persen jika dibandingkan dengan sehari-hari yang diangkut petugas DLH.

Hal itu seperti disampaikan Kepala DLH Batang, Agus Riyadi, saat diwawancarai Radar Pekalongan, Selasa (19/5/2020), di ruang kerjanya. Menurut dia, kenaikan volume sampah ini dikarenakan beberapa sebab. Salah satunya maraknya penggunaan plastik lantaran menjamurnya aneka takjil dan hidangan untuk berbuka. Selain itu juga dikarenakan konsumsi plastik masyarakat ketika berbelanja. Khususnya untuk persiapan lebaran, warga juga banyak menggunakan plastik.

“Ada peningkatan volume sampah di bulan ramadan sekitar 10-15 persen. Utamanya di perkotaan, dengan volume sekitar 200 meter kubik. Kenaikkan ini karena banyaknya penggunaan sampah khususnya plastik karena masyarakat banyak berbelanja kebutuhan sahur atau buka. Dan juga untuk persiapan lebaran,” jelasnya.

Sementara untuk lebaran sendiri pihaknya sudah mempersiapkan 7 armada truk kontainer dan 4 doplak. Nantinya petugas akan dikerahkan malam hari sebelum hari raya, sehingga ketika hari H hari raya keadaan sudah bersih dan nyaman.

“Sampah diambil pada malam lebaran. Baru H+1 kembali operasional lagi. Untuk hari H lebaran kami liburkan para kru keberadaan dan kru armada unruk libur. Agar bisa menikmati masa lebaran bersama keluarga masing-masing,” imbuh Agus.

Pihaknya berharap, masyarakat juga bisa bijak dalam mengontrol penggunaan sampah. Sehingga harapannya bisa meminimalisir penggunaan sampah plastik. Dan diharapkan bisa menggunakan tas berbelanja ketika akan berbelanja ke pasar ataupun minimarket.

“Ini memang menuntut kesadaran kita semua untuk benar-benar bisa mengelola sampah, utamanya mengurangi dari sumbernya, yakni rumah tangga. Kedua, Indonesia dikenal sebagai salah satu pembuang sampah plastik terbesar di dunia, fakta ini hanya bisa kita tekan jika masing-masing sadar untuk mengurangi penggunaan plastik, termasuk saat berbelanja,” jelas Agus mengakhiri. (nov)