Radar Batang

Membangun Infrastruktur Fisik sampai Manusia dan Budayanya

This slideshow requires JavaScript.

Menilik Kinerja Disdikbud Tahun 2017

Pembangunan pendidikan dan kebudayaan memuat wilayah kerja yang luas dengan multystakeholder. Sederhananya, membangun pendidikan adalah membangun manusia, infrastruktur fisik, hingga ekosistem budayanya.

Di tahun 2017 kemarin, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang telah mengupayakan pembangunan sektor pendidikan itu, terutama melalui tiga bidang penopangnya.

Pendidikan Karakter

Program pendidikan karakter telah menjadi bagian dari Renstra Nasional 2014-2019. Aturan perundangan juga telah memberikan amanat yang sama, seperti Permendikbud 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti hingga yang terbaru Perpres 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Sementara untuk lingkup lokal, Kabupaten Batang juga telah memiliki Perbup 52 Tahun 2015 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Karakter. Kabid Pendidikan Dasar Disdikbud, Drs Sabar Mulyono, mengatakan, pendidikan karakter sebetulnya telah lama diimplementasikan baik yang terintegrasi dalam kurikulum 2013 maupun kebijakan di masing-masing satuan pendidikan.

“Belakangan, pendidikan karakter ini memang kembali kita gelorakan lagi, semata-mata agar mendapatkan perhatian lebih. Ini justru menjadi wujud keprihatinan kami atas kecenderungan moral pelajar yang merosot sekaligus niat tulus Disdikbud untuk ikut membenahinya bersama,” ungkapnya, baru-baru ini.

Pendidikan karakter itu menurut Sabar memuat empat aspek, yakni hubungan dengan Tuhan YME, hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan sesame, dan hubungan dengan lingkungan. Namun, pendidikan karakter mustahil hanya bergantung pada sekolah. Kata dia, ada tripusat pendidikan yang harus saling bersinergi, yakni sekolah, lingkungan, dan keluarga.

“Peran keluarga di rumah justru punya ruang yang besar, karena orang tua adalah pendidik pertama dan utama,” terangnya.

Dalam kepentingan itu pula, Kamis (4/1) hari ini, Disdikbud bakal melaunching gerakan penguatan budi pekerti di pendopo Kabupaten Batang. Kegiatan itu akan dihadiri kepala sekolah, penilik, sekolah, dan seluruh SD inti se Kabupaten Batang. “Kalaupun baru dilaunching, karena gerakan ini tetap butuh momentum. Harapannya, pendidikan karakter ini digelorakan bersama seluruh stakeholder pendidikan,” ucap Sabar.

Program pendidikan karakter juga tidak hanya menyasar peserta didik. Kepala sekolah, guru, dan tenega kependidikan juga tak luput dari jangkauan. Tahun 2017, Disdikbud bahkan menggandeng BKD untuk sidak ke sejumlah sekolah di Kabupaten Batang. Kegiatan itu bahkan langsung dipimpin Kepala Disdikbud, Rahmat Nurul Fadilah S Pd M Si serta Kepala BKD Alimudin.

“Ini bentuk pembinaan terhadap tenaga pendidik dan kependidikan di lingkungan Disdikbud. Agendanya akan kita rutinkan dengan harapan berefek positif bagi peningkatan kinerja pegawai. Karena guru kan harus jadi tauladan soal kedisiplinan untuk peserta didik,” ucap Rahmat.

Selain memantau langsung kinerja kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan, tim juga mengecek keberlangsungan kegiatan di sekolah. Buku induk, buku hadir, hingga RAPBS ikut dicek. Bahkan, meski tak di lokasi, kinerja pengawas juga tak lupt dari pantauan.

Dukungan Sarpras

Untuk menunjang keberlangsungan pendidikan, daya dukung sarana dan prasarana pun dilaksanakan sepanjang tahun 2017. Khusus kegiatan konstruksi, tahun lalu Bidang Sarpras total mengelola 90 pekerjaan yang dilaksanakan pihak ketiga, 24 paket swakelola SD senilai total Rp 1,91 M, dan 11 paket swakelola SMP senilai Rp 1,375 M. Selain itu, ada 14 paket bantuan rehab dari Kemendikbud yang juga dilaksanakan secara swakelola.

“Alhamdulillah, seluruh pekerjaan konstruksi tahun 2017 berhasil terrealisasi 100%, baik fisik maupun keuangannya. Bahkan, khusus paket swakelola DAK, untuk SMP telah rampung sejak Agustus dan SD di awal November,” terang Kabid Sarpras, Drs Mulyadi M Si.

Sementara untuk pekerjaan lelang, ada dua bangunan baru yang berhasil diselesaikan. Pertama, pembangunan UGB PAUD Terpadu Tersono dengan pagu Rp 400 juta. Kedua, UHB SDN Gringsing 01 senilai Rp 2 M. “Awal Januari kemarin, siswa dan guru SDN Gringsing 01 sudah menempati bangunan baru yang relatif lebih megah,” imbuh Mulyadi.

Aspek Kebudayaan

Terkait implementasi program di Bidang Kebudayaan, setidaknya ada dua kegiatan yang cukup mencolok. Pertama, lewat Bintek Kesenian Tradisi, awal November 2017, Disdikbud memperkenalkan kreasi Tari Batik Gringsingan dan Tari Sumo Gringsingan sebabagi khasanah baru kesenian dan kebudayaan Batang.

“Tarian ini juga sebagai dukungan atas program visit Batang 2022 dan heaven of Asia yang diluncurkan Pak Bupati. Harapannya, tarian ini menjadi salah satu ikon kesenian khas Batang dan diajarkan di sekolah-sekolah dan ruang berkesenian yang lain,” ujar Sekretaris Disdikbud, Darsono.

Benar saja, paska bintek, beberapa sekolah merintisnya menjadi salah satu materi ekstra kurikuler, seperti yang dilakukan SMK Muhammadiyah Bawang. Bahkan, tarian itu juga sudah pernah dipentaskan di even tingkat Jawa Tengah.

Kedua, medio November 2017, Disdikbud juga melakukan gerakan cepat mengamankan dan menyelamatkan benda-benda cagar budaya (BCB) yang sebelumnya kurang terperhatikan di eks kantor Dinas Pariwisata yang sedang ada aktivitas pembangunan. Respon cepat Dinas untuk memberikan pengaman sementara disusul evakuasi ke kantor Disdikbud sehari setelahnya, pun direspon sejumlah kalangan pemerhati cagar budaya. Salah satunya dari Batang Gallery, salah satu komunitas anak-anak muda yang sejauh ini sangat concern terhadap penelusuran dan pendataan BCB di Kabupaten Batang.

Total ada 10 BCB yang berhasil dievakuasi dengan bantuan crane itu, yakni dari jenis yoni, arca nandi, kala (atasan candi), hingga lumping. “Karena belum ada rumah permanen, paling tidak benda-benda ini bisa diamankan di kantor kami, setiap hari bisa terpantau kondisinya. Kami juga menyediakan petugas untuk secara rutin membersihkan benda-benda itu dari debu dan kotoran lainnya,” kata Kepala Disdikbud, Rahmat Nurul Fadilah.

Kreasi dan Apresiasi

Sepanjang 2017, sejumlah kebijakan kreatif Disdikbud Batang juga diapresiasi banyak kalangan. Pertama, penyelenggaraan pameran pendidikan dan kebudayaan 2017 di Jl Veteran, yang menghadirkan kreasi dan inovasi insan pendidikan dari SD, SMP, UPT, dan lainnya. Even yang baru kali pertama digelar di Batang itu mendapatkan apresiasi langsung dari Bupati Wihaji.

Kedua, penyelenggaraan rapat kerja stakeholder pendidikan guna mengevaluasi kinerja pendidikan dan kebudayaan 2017, pemantapan perencanaan 2018 dan perumusan renja 2019. Ketiga, realisasi pencairan bantuan operasional personalia untuk tenaga pendidikan dan kependidikan non PNS. Selain besaran tunjangan yang tercatat tertinggi kedua di Jateng, bantuan untuk guru sekolah swasta juga disebut-sebut yang pertama di Jateng.

Di luar itu, beberapa prestasi tingkat provinsi maupun nasional juga ditorehkan pelajar SD/SMP di 2017. Untuk Lomba MAPSI SD 2017, ada Ahmad Noval dari SDN Sukomangli 02 Reban yang meraih juara 3 untuk cabang kewirausahaan islami putra. Pada ajang O2SN Provinsi Jateng, tercatat nama Fadhil Idzarul Kusnaedy dari SDN Pasekaran 02 sebagai juara 3 50 m gaya punggung putra serta Amalia Mulia Intan Himayah dari SMPN 3 Batang berhasil merebut juara 1 50 m gaya punggung putrid.

Secara khusus, beberapa siswa SMPN Kandeman mampu menorehkan prestasi nasional untuk cabang atletik lari. Pertama, Rintis, juara 3 lari 10.000 kejuaraan atletik nasional 2017 di Solo. Kedua, dalam lomba lari 10 K tingkat nasional 2017 di Halim Perdanakusuma, 4 siswa SMPN Kandeman juga berhasil masuk 10 besar, yakni Marni (posisi 4), Rintis (5), Shofi (8), dan Firanika (9).

Pada Mei 2017, siswi SMPN 2 Kandeman juga sukses menjadi juara 1 maraton tingkat nasional yang diselenggarakan di Purwokerto. Prestasi lainnya yang terbaru adalah SDN Karangtengah 01 Kecamatan Subah yang sukses meraih penghargaan sebagai Sekolah Adiwiyata Nasional 2017 dari Kemen LHK dan Kemendikbud. (sef)

Penulis: Akhmad Saefudin & Redaktur: Dony Widyo

Facebook Comments