Kedungwuni Paling Terpuruk

by

**Akibat Pandemi Covid-19

BANTUAN – Bupati Asip Kholbihi menyalurkan bantuan bahan pangan dari pemkab di Kecamatan Kedungwuni, kemarin.

KEDUNGWUNI – Kecamatan Kedungwuni sebagai salah satu wilayah perkotaan di Kabupaten Pekalongan secara sosial ekonomi paling terpuruk akibat pandemi Covid-19. Pasalnya, banyak pusat-pusat perekonomian tidak berjalan normal, pabrik merumahkan karyawannya, dan industri rumah tangga seperti konveksi tutup.

“Hari ini kita menyalurkan bantuan dari pemkab untuk Kecamatan Kedungwuni sebanyak 8.182 kepala keluarga. Data ini dari kades dan lurah. Kemungkinan masih ada distorsi, yakni masih ada warga yang belum dapat bantuan tapi mereka memenuhi kriteria untuk mendapat bantuan jaring pengaman sosial akibat imbas wabah Covid-19,” ujar Bupati Asip Kholbihi saat menyalurkan bantuan bahan pangan di Kecamatan Kedungwuni, Senin (27/4/2020).



Dikatakan, Kecamatan Kedungwuni memiliki spesifikasi khusus karena banyak masyarakat miskin kota. “Kemiskinan kota ini harus disikapi lebih spesifik lagi. Berbeda dengan daerah kabupaten yang basis kemiskinannya pedesaan dan daerah sekitar hutan. Di kota, kades dan lurah harus detail karena banyak yang terdampak seperti pabrik banyak merumahkan tenaga kerja, home industri tutup, dan pusat-pusat ekonomi seperti Taman Gemek ditutup, pasar dibatasi, pedagang kaki lima pun operasinya tidak normal. Ini sangat berdampak kepada masyarakat yang kulturnya perkotaan seperti di Kedungwuni ini,” ujar Bupati.

Apalagi, lanjut Bupati, Kedungwuni menjadi pusat industri konveksi terbesar di Kabupaten Pekalongan, sehingga ribuan UKM konveksi ini sudah tutup sejak awal. “Ini karyawannya ada yang punya 10, 20, ratusan bahkan ribuan. Skalanya memang rumah tangga tapi karyawannya nyebar hingga kecamatan lain. Ini berdampak sekali. Oleh karena itu, Kecamatan Kedungwuni harus diperhatikan betul kondisi sosiologis masyarakatnya supaya tidak ada efek kemana-mana,” tandas dia.

Bupati juga memberi amanat kepada kades dan lurah untuk menyampaikan bantuan itu langsung ke rumah-rumah penerimanya. Sehingga, kades dan lurah mengetahui secara pasti kondisi warganya.

“Total kabupaten ada sekitar 75 ribu lebih warga yang bisa kita kontrol secara langsung melalui pendekatan yang dilakukan kades dan lurah ini, sehingga kita tahu persis apa yang terjadi di rumah masing-masing. Saya khawatir barangkali ada warga yang sakit tapi mereka tidak berani ke rumah sakit, atau bahkan ada yang mungkin sudah tidak makan tapi karena kades tidak pernah nyambangi maka tidak tahu. Komunikasi sosial seperti ini melalui bantuan dari kabupaten bisa efektif untuk mengurangi dampak sosial di musibah Covid-19,” katanya. (had)