Tanggulangi Dampak Covid-19, Ambokembang Godok Beberapa Skenario Bantuan

by
SIAGA- Aparat Pemdes Ambokembang siaga pencegahan Covid-19.

AMBOKEMBANG – Dalam rangka mengantisipasi dan menanggulangi dampak Covid-19, Pemerintah Desa Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, menyediakan beberapa skenario pemberian bantuan sesuai instruksi dari pusat, provinsi dan kabupaten. Skenario yang disiapkan yakni Bantuan Langsung Tunai (BLT) sesuai Permendes tentang prioritas penggunaan anggaran dana desa, padat karya tunai, uang cadangan hingga skema saluran bantuan lainnya misalnya dari Dinas Sosial dan lembaga lainnya.

Demikian diungkapkan Kepala Desa Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni, Adiatma. Dia mengatakan, semua alokasi anggaran yang masuk desa akan dipergunakan semaksimal mungkin untuk membantu warga yang kehilangan akses pekerjaan, penghasilan serta pangan di kondisi pandemi saat ini.

“Tentang dampak Covid-19 ini memang di desa kami itu semua APBDes, anggaran pembangunan maupun pemberdayaan itu dipangkas atau dipending untuk menangani Covid -19,” ungkapnya.

Namun hal yang paling pertama yang telah diupayakan pihaknya adalah BLT. “Contoh pertama kita harus menyiapkan BLT senilai 30 persen dari dana desa. Kedua padat karya tunai senilai Rp100 juta untuk 5 bidang. Terus ada lagi untuk uang cadangan sendiri senilai Rp90 juta,” jelasnya.



Kendati demikian, rencana penyaluran BLT bukan tanpa polemik nantinya karena semua warga menginginkan untuk memperoleh bantuan. “Nah ini dampak dari Covid-19 ini tentang BLT memang sangat sensitif bagi masyarakat. Apalagi kita pemerintah desa tidak mampu menangani jumlah warga yang datang untuk bertanya tentang BLT tersebut,” paparnya.

Padahal alokasi anggaran BLT dari paguh anggaran dana desa hanya 30 persen yakni hanya sekitar Rp300 juta. Sementara jumlah penduduk di desa Ambokembang sampai 8.300 orang dengan 200 KK. Artinya yang dapat menerima bantuan hanya sekitar 166 KK.

Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, pihaknya juga sudah menyediakan beberapa kriteria penerima bantuan. Salah satunya dengan membentuk tim khusus atau tim survei independenn untuk mensurvei langsung warga yang membutuhkan. “Dan nanti akan ada tim survei desa yang benar-benar independen yang di luar kebijakan masyarakat. Nanti dibantu pak RT setempat untuk menilai warga yang berhak dapat BLT,” imbuhnya.

Ia berharap, warga masyarakat dea Ambokembang bisa terbuka hatinya untuk saling membantu antar sesama agar alokasi anggaran yang minim bisa tepat sasaran dan yang tidak kebagian bisa bergotong royong saling bantu membantu antara masyarakat. “Semoga masyarakat terbuka hatinya dengan anggaran yang minim tersebut,” harapnya.

Tidak hanya itu, ia juga sudah menyedikan beberapa skenario penyaluran bantuan cadangan sebagai antisipasi semua upaya di atas belum berjalan maksimal dan memang masih ada warga yang betul-betul membutuhkan. “Antisipasi polemik warga yang mengumpulkan KK ini kita sikapi dengan bantuan masukan BDT (basis data terpadu) supaya kita bisa tambal sulam atau bantuan dari pusat maupun provinsi apapun nanti programnya,” sambungnya.

Intinya dana bantuan yang real sekarang ini baru dari dana desa, bantuan lain masih berupa skenario. Tapi dia berharap semua bisa terealisasi dengan baik dan tepat sasaran. “Yang jelas sekarang itu baru BLT karena dananya dari dana desa, jadi uangnya kelihatan dari rekening. Kalau bantuan lain dari Kementerian Sosial maupun dari Kabupaten itu belum. Tetapi kita harus menyikapi yang benar-benar tercover adalah yang paling membutuhkan,” tambahnya.

Ditanya kapan penyaluran bantuannya akan direalisasikan, ia mengatakan pihak pemdes akan bermusyawarah bersama RT, RW lembaga desa, BPD. “kita musyawarahkan, kita saling sharing. Baru nanti disosialisasikan,” tutupnya. (ap3)