Radar Kajen

Biayai Belasan Anak Yatim

Gus Rizmy

BERSAMA PARA SANTRI – Gus Rizmy bersama sang istri (dua dari kiri) berfoto dengan para santrinya, di Ponpes Darussalam, Kedungwuni.
MUHAMMAD HADIYAN

Hari Amal Bhakti Kementerian Agama (Kemenag) ke-72 jatuh pada hari ini, 3 Januari 2018. Banyak perjuangan amal bakti yang ditoreh beberapa pegawai Kemenag yang luput dari perhatian masyarakat maupun media.

Salah satunya sosok pegawai Kemenag di Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan satu ini. Adalah K Moh Khawarizmy Murhis Mahrab atau yang akrab disapa Gus Rizmy ini banyak dikenal sebagai sosok yang rendah hati.

Namun siapa sangka, di balik kesehariannya sebagai pegawai, suami dari Sri Kiyanti ini menghidupi 11 anak yatim dan duafa di rumahnya. Selain memberikan makan tiga kali sehari, Gus Rizmy juga menyekolahkan mereka layaknya anak sendiri. Tidak hanya itu, 11 anak yatim dan duafa itu juga dididik bersama 80 santri kalong yang mondok di rumahnya.

Memang, dirinya sudah tiga tahun ini mendirikan Yayasan Ma’haduna Darus Salam, tepatnya ia didirikan pada tanggal 23 Desember 2015 lalu. Di bawah atap ponpes yang berada di Perumahan Puri Indah, Kedungwuni Timur, No 14 dan 16 RT 03/RW 16 Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan ini, ia mendidik dengan penuh ikhlas dan tanpa pamrih kepada santri-santrinya.

Yayasan Darussalam yang menaungi Ponpes, Majlis Ta’lim dan Madin tersebut telah memiliki izin operasional atau piagam dari Kementerian Agama Kabupaten Pekalongan.

Meski tugas mendidik puluhan santri bukanlah perkara mudah, namun ayah dua anak ini tak pernah mengesampingkan tugasnya sebagai pegawai Kemenag di KUA Kecamatan Talun. “Bagi saya, keduanya adalah tugas yang sama-sama penting, baik mendidik santri maupun melayani masyarakat sebagai pegawai KUA,” ujar Gus Rizmy, kemarin.

Putra kedua dari pasangan KH Murhis bin KH Mahrab dengan Nyai Hj Khusnita Muhadim ini menceritakan, jadwal mengaji para santri-santrinya dimulai setiap setelah salat subuh. Setelah ia selesai mengajar keagamaan ke para santri, Gus Rizmy dan istrinya menyiapkan hidangan untuk para santri sebelum mereka berangkat sekolah. Setelah selesai sarapan, para santri baru berangkat ke sekolahnya masing-masing dengan menggunakan sepeda pemberian Gus Rizmy saat awal mereka masuk pondok.

Pembagian uang saku juga ia berikan berbeda-beda sesuai kebutuhan. Misal santri SMP berbeda degan SMA. Ia juga selalu berusaha menyisihkan uang untuk keperluan mendadak untuk keperluan SPP maupun kebutuhan pembelian buku pelajaran bagi santri-santrinya itu.

“Biar bagaimanapun mereka sudah saya anggap anak-anak saya sendiri. Maka saya tak ingin mereka merasa kekurangan,” tutur Rizmy.

Saat ditanya bagaimana bisa ia mendidik dan membiayai belasan anak yatim di rumahnya, dia hanya menjawab, semua karena Allah. “Saya lillahitaala mas. Rejeki sudah ada yang ngatur. Kalau gaji sebagai pegawai Kemenag, hanya cukup untuk kebutuhan keluarga saya pribadi. Namun kalau rejeki dari Allah, sudah sangat cukup untuk menghidupi anak-anak santri saya,” kelakarnya sembari tersenyum.

Ia berharap, belasan santri yatim maupun duafa serta puluhan santri kalong yang menimba ilmu di rumahnya, kelak bisa menjadi generasi yang berguna bagi masyarakat, negara dan agama. “Karena Motto kami adalah Darussalam Berkhidmat Mengkader Ummat,” tandasnya. (yan)

Penulis: M. Hadiyan & Redaktur: Widodo Lukito

Facebook Comments